Rabu, 26 Juni 2019

Follow us:

infobrand

infobrand

Serial Leadership! Anak Muda Memimpin Orang Tua, Sulitkah?

Posted by: 21-08-2018 09:34 WIB 458 viewer

Serial Leadership! Anak Muda Memimpin Orang Tua, Sulitkah?
Abdus Somad Arief, Direktur Wholesale & International Service PT Telkom Indonesia

Ditugaskan menjadi pemimpin sebuah unit yang "penghuninya" orang-orang yang (jauh) lebih tua dari kita. Bagaimana ya?

Saya tidak alami hal itu hari ini karena usia saya sudah hampir masuk masa pensiun. Dalam banyak kesempatan rapat atau koordinasi, saya menemukan diri saya orang yang tertua di antara kawan-kawan.

Tapi kalau berbicara masa lalu, ya cukup banyak pengalaman saya memimpin bapak-bapak atau ibu-ibu yang lebih tua dari saya.

Awal tahun 2000an saya dicemplungkan ke dalam unit baru. Namanya juga unit baru, sudah pasti job desk, tata kerja belum jelas dan seperti biasanya, kita harus membuatnya sendiri.

Baru beberapa minggu berusaha mengenal dan mendefinisikan scope pekerjaan tiba-tiba suatu hari berdatangan bapak-bapak yang lebih tua atau jauh lebih tua melapor masuk ke dalam unit saya. Tidak hanya lebih tua, beliau-beliau juga pangkatnya lebih tinggi dari saya.

Beliau-beliau membawa pesan dari bapak kepala kantor, penjabat tertinggi di unit saya, bahwa beliau-beliau diminta melapor kepada mas Asa dan minta dijelaskan tugas-tugasnya. Diminta melapor ke saya berarti pak Kepala menginginkan saya memimpin beliau-beliau.

Mungkin kawan-kawan bertanya-tanya, apa tidak salah bahwa saya harus memimpin orang-orang yang berpangkat lebih tinggi dari saya? Itu betul. Karena di unit baru ini lebih banyak posisi fungsional atau non structured position dan posisi pemimpinnya bisa dengan pangkat yang lebih rendah dari yang dipimpin.

Dalam hati saya bergumam "Lha gua sendiri belum engeh tugas gua, tiba-tiba disuruh ngejelasin dan nugasin bapak-bapak yang terhormat ini". Pusing nggak sih?

Ada tiga kondisi yang membuat tantangan saya waktu itu cukup berat:

1. Umur dan masa kerja saya jauh lebih muda dari beliau-beliau.

2. Beliau-beliau ini bekas pejabat di daerah, ada yang bekas kepala kantor daerah, kepala cabang, kepala dinas dan lain lain. Hampir semua bekas boss.

3. Pangkat saya lebih rendah dari beliau-beliau.

Jadi posisi saya serba inferior. Sudah lebih muda, lebih miskin pengalaman, pangkatnya masih di bawah lagi. Terbayang bukan, bagaimana sulitnya menempatkan diri, apalagi memimpin beliau-beliau.

Ada beberapa macam karakter bapak-bapak yang terhormat ini. Ada yg positif, menunjukkan respect, tapi ada juga yang negatif, sindroma masa lalu.

Yang positif, beliau-beliau punya respect yang tinggi kepada pemimpin muda: "Kalian anak-anak muda ini hebat, bapak dulu seusia kalian masih belum tahu apa-apa", atau "Kami senang punya yunior seperti anda, perusahaan akan tetap juara".

Ada pula yang "netral", kata lain dari apatis, skeptis atau bahkan menyerah.

Sikap beliau "Sudah bukan eraku untuk kerja keras, aku sudah capek" atau "Aku sudah sangat banyak memberi kontribusi kepada perusahaan ini, sekarang giliranmu" atau "Aku sudah terlalu tua untuk mengejar ketinggalan dengan yang muda-muda" atau fokus yang terpecah "Aku harus mempersiapkan masa pensiun aku yang sudah di depan mata".

Sindroma apatis masih "lumayan" karena walaupun beliau-beliau kurang dalam kontribusi, minimal tidak mengganggu jalannya organisasi. Yang agak repot kalau beliau-beliau datang dengan membawa sindroma kejayaan masa lalu.

Sindroma tahu segalanya "Aku sudah pernah dengar semua itu dari sepuluh tahun silam". atau sindroma paling berpengalaman "Aku sudah melakukannya sejak dahulu kala", atau sindroma kejayaan "Waktu aku kepala kantor, tidak begitu caranya menghadapi persoalan yang seperti ini", dll.

Nah kalau yang kawan-kawan muda temui kebetulan yang ber-sindroma seperti di atas, bagaimana ya menghadapinya agar tercipta situasi yang kondusif dan konstruktif.

Kuncinya adalah "winning respect". Syukur-syukur kalau para senior ini sudah dari sono-nya membawa sifat saling menghormati. Kalau tidak begitu? Ya perlu usaha pemimpin muda untuk "memasukkan" beliau-beliau ke dalam environment kepemimpinannya dia.

Berikut beberapa tips dan tricks memimpin bapak-bapak yang lebih senior. Beberapa di antaranya saya alami waktu itu, beberapa yang lain saya alami pada waktu yang lain.

1. Menjadi Pendengar dan Pembelajar yang Baik

Kawan muda mau mengakui atau tidak, pastinya masih dalam taraf belajar memimpin. Maka jangan malu untuk belajar dari beliau-beliau. Dengarkan dan camkan apa saja pertanyaan-pertanyaan beliau dalam rapat, dalam keseharian. Hal-hal yang ditanyakan itu secara langsung atau tidak, menunjukkan harapan dan interes beliau.

Pancinglah beliau-beliau dengan bijak agar dengan suka cita mengeluarkan "ilmu simpanan"nya dengan menunjukkan bahwa kita minat dan hikmat mendengarkan apa yang dituturkan.

Alangkah baiknya bila saran sesepuh yang masih relevan kita implementasikan walaupun dengan modifikasi atau penyesuaian sana sini. Dan yang penting, berikan apresiasi kepada beliau dengan menunjukkan dan mengatakan bahwa salah satu pekerjaan ini sukses antara lain karena "rumus" babe kite.

2. Sentuhan Personal

Bagi beliau-beliau dengan usia yang sudah matang umumnya keluarga adalah segalanya. Anak-anaknya bahkan mungkin sudah sebaya kita.

Pendekatan personal sebagaimana layaknya kepada seorang ayah dalam banyak kondisi khususnya dengan budaya timur, sangat efektif. Kalau ikatan emosional seperti seorang ayah, apa masih ada yang tidak diberikan atau tidak didukung oleh beliau?

Personal touch dengan menanyakan keluarga, memberi advis tentang sifat anak sebaya kita, diskusi agama, kesehatan, sangat klop untuk membuat pemimpin muda dekat dengan senior. Lha kaum muda kan nggak ngerti banyak tentang kesehatan? Ya belajar dong tole. Kan bisa tanya Mbah Gugel dan lainnya.

Pada intinya, kita harus mampu memecahkan hambatan komunikasi dengan bapak dan ibu dalam tim kita. Perlihatkan siapa kita sebagai pemimpin muda dengan apa adanya, biarkan beliau masuk untuk tahu diri kita yang sebenarnya. Dengan demikian akan tercipta lingkungan kerja yang hangat, akrab, jauh dari rasa adanya ancaman yang latent.

3. Baur Budaya Tua dan Muda

Budaya itu "sesuatu banget" bagi senior. Apalagi kita dibesarkan dalam adat ketimuran yang penuh dengan tata krama, unggah-ungguh. Hal demikian mau tidak mau harus dipertimbangkan karena sangat kental mempengaruhi cara berpikir kebanyakan orang di sekeliling kita, apalagi bagi orang tua yang mengalami berbagai macam jaman kepemimpinan.

Anak muda yang didapuk menjadi pemimpin dalam lingungan yang culture mix seperti itu diuji kepiawaiannya. Dia harus bisa membaurkan kedua budaya yang berbeda itu diterjemahkan ke dalam budaya perusahaan.

Pertama, anak muda harus mendalami bagaimana cara berpikir para seniornya. Gaya "gua kagak mau tahu, pokoknya ...." tidak akan laku dalam situasi yang demikian. Kedua, ingatlah bahwa tugas pemimpin adalah membantu semua anggota tim-nya untuk sukses melalui learning and growth yang kontinyu. Maka komunikasikan cara berpikir baru yang mungkin berbeda dengan cara berpikir beliau-beliau dan buatlah itu make sense. Ketiga, dengan membuat senior mengerti maka langkah terakhir adalah membuat beliau-beliau buy-in dengan konsep baru kita dan mengimplementasikan dengan konsisten dan berkesinambungan.

4. Akhirnya Dapatkan Respect

Untuk mendapatkan respect perlu waktu dan tidak bisa dipaksakan. Oleh karena itu pemimpin muda harus menunjukkan kemampuan kepemimpinannya dengan tetap mendapatkan hati para staf senior antara lain dengan menerapkan leadership style yang cocok.

Leadership style seperti apa? Tidak selalu sama pada tiap situasi tetapi umumnya dengan lebih soft dan dengan mengukur tingkat demanding si pemimpin, sebaiknya tidak intimidatif dan tidak otoriter. Yang paling penting harus dijaga integritas diri sendiri dan tim, trust dan transparansi.

Akhirnya, alangkah mulia dan nyamannya seorang pemimpin bila semua anggotanya, tidak peduli berapa usianya, mereka sukses dan berbahagia dalam bekerja.

Itu dapat dicapai bila si pemimpin bersedia meluangkan waktu dan energi untuk memahami pribadi-pribadi anggota tim-nya. Kalau toh kita bisa memisahkan pekerjaan dengan emosi dan pribadi, selepas jam kerja toh kita kembali menjadi manusia biasa yang berhubungan dengan orang lain, ber-emosi dan ber-sosialisasi. Wallohu'alam bissawab.

Selamat memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke 73. Dirgahayu RI !

Abdus Somad Arief

Direktur Director of Wholesale & International Service PT Telkom Indonesia


Kirimkan Press Release berbagai kegiatan aktifitas Brand Anda ke: infobrandindonesia@gmail.com



Article Related


Gancar Premananto: Pameran Bisa Digunakan Untuk Membangun Merek

Gancar Premananto: Pameran Bisa Digunakan Untuk Membangun Merek
JAKARTA, INFOBRAND.ID - Pengamat ekonomi sekaligus dosen Universitas Airlangga (Unair), Dr. Gancar Candra Premananto, MSi., CMA mengatakan bahwa suatu...


Catat! Ini 10 Langkah Jadi Pengusaha Sukses Untuk Generasi Milenial

Catat! Ini 10 Langkah Jadi Pengusaha Sukses Untuk Generasi Milenial
JAKARTA, INFOBRAND.ID – Tak bisa dipungkiri kalau era digital telah melahirkan generasi milenial. Selain melek teknologi, mereka juga memiliki i...


Rahasia Agar Tetap Fokus Berkendara Selama Puasa

Rahasia Agar Tetap Fokus Berkendara Selama Puasa
JAKARTA, INFOBRAND.ID – Menjalani aktivitas di tengah ibadah puasa menjadi tantangan besar bagi umat muslim di seluruh dunia. Terutama bagi mere...


Membangun Rencana Transformasi Bisnis Digital

Membangun Rencana Transformasi Bisnis Digital
INFOBRAND.ID - Penyesalan terbesar di dunia investor Silicon Valley adalah melewati kesempatan menanamkan modal di bisnis Facebook diawal pengembangan...