Selasa, 19 Januari 2021

Follow us:

infobrand

infobrand

BRAND UPDATES

Index

OPINIONS

Index

Amalia E. Maulana: Tidak Usah Sibuk Memikirkan Dikotomi Digital VS Non-Digital Karena Issue Terpentingnya Bukan Itu.

Posted by: 02-04-2018 11:55 WIB 1697 viewer

Amalia E. Maulana: Tidak Usah Sibuk Memikirkan Dikotomi Digital VS Non-Digital Karena Issue Terpentingnya Bukan Itu.
Amalia E. Maulana

Di era pasar yang terbilang hiperkompetitif seperti sekarang ini, tentunya pemahaman tentang kebutuhan konsumen akan produk dan jasa menjadi sangat kritikal, untuk itu pemasar harus betul-betul mempelajari keseharian konsumen mulai dari kebutuhan produk hingga kebiasaaan.

Amalia E. Maulana, Ph.D. selaku Brand Consultan & Ethnographer ETNOMARK Consulting mengatakan “ Pemasar harus tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka, tidak bisa lagi dilakukan sambil lalu, Pemasar harus pelajari keseharian konsumen mulai dari kebutuhan produk hingga bagaimana mereka menggunakan media, media apa saja yang dapat mencapai mereka. Keseharian ini disebut dengan Total Consumer Journey terdiri dari kegiatan, kebutuhan produk hingga media habitnya,” ujar Amalia kepada INFOBRAND.ID dalam wawancara tertulisnya.

Amalia juga menambahkan “Tanpa pemahaman holistik kehidupan konsumen, maka yang terjadi adalah lebih banyak tidak mencapai sasaran pengembangan brand. Salah satu media yang sudah tidak bisa lepas dari kehidupan konsumen masa kini adalah media digital, baik itu internet kantor, laptop dan tablet dirumah dan dijalanan, hingga smartphone di genggaman itu semua menggunakan media digital.”

Memasukkan media digital dalam total Integrated Marketing Communication (IMC) menurut Amalia hal tersebut tak sama dengan mengganti media komunikasi dengan total digital, ini yang perlu disadari terlebih dahulu.

Wanita yang masih aktif menjadi penulis majalah marketing and bussines di beberapa majalah dan koran ternama ini ingin melontarkan pertanyaan kritikal yang akan ditanyakan terlebih dahulu kepada brand-brand yang akan Going Digital atau Committed Digital. “Apakah sudah memahami keseharian konsumenya? The Dynamic Of Their Consumer Daily Journey ? jika belum, sebaiknya mulai dahulu dengan investasi pemahaman Insight Media kebiasaan target audience yang telah dipilihnya,” tegas Amalia.

Lalu konsep digital seperti apakah yang harus dilakukan oleh brand-brand yang baru atau brand-brand yang namanya sudah dikenal luas oleh masyarakat ? Dan faktor apa yang harus diperhatikan oleh sebuah brand untuk memutuskan menggunakan strategi digital marketing?

Amalia menjawab, Bahwa Going Digital ini tidak eksklusif terhadap brand baru atau brand yang sudah established. Tidak ada batasan brand mana yang harus masuk digital, yang menjadi kunci ialah siapa target audience mereka dan apakah digital media sudah masuk dalam dimensi media mereka, jadi bukan dari brand baru atau lamanya.

Brand yang pada awalnya sudah dikenal luas tetapi terlambat untuk masuk ke dunia digital sedangkan konsumenya sudah lebih lama berada disana, menurut Amalia, “Tentu saja akan ketinggalan kereta, dunia bergerak dan berubah dengan cepat, demikian pula perubahan yang terjadi di keseharian konsumen. Brand tidak boleh terlambat untuk menyelaraskan alamnya dengan alam konsumenya.”

Kegiatan Konsumen secara digital memang bermacam-macam, dari mulai pencarian informasi, berkomunikasi, mencari hiburan hingga melakukan transaksi seperti Online Shopping.

Penulis Buku “Consumer Insights Via Etnography” ini menegaskan, tak hanya pemahaman konsumen dalam kebiasaanya dalam menggunakan media digital saja yang harus diperhatikan, tapi level atau tingkatan keahlian digital dari konsumen di segmen yang dibidik juga perlu dipelajari.

Bagaimana menurut Amalia apakah digital marketing mutlak dilakukan oleh setiap brand saat ini? Dan apakah masih bisa melakukan penerapan offline marketing seperti penyebaran brosur dan lainya?

“Pada saat disebut offline marketing, kita harus teliti dulu apa makna istilah ini? apakah ini mengacu pada kegiatan Non-Digital? harus jelas dulu batasanya, karena dikhawatirkan kita akan masuk dalam perangkap generalisasi dari sebuah istilah kegiatan Non-Digital,” imbuh Amalia.

Ada banyak kegiatan non-digital yang masih harus dilakukan oleh sebuah brand, mengingat digital itu merupakan bagian dari TOTAL INTEGRASI kegiatan digital dan non-digital. Karena itu Amalia berujar, “Untuk sebaiknya brand tidak perlu terlalu membuat pembagi khusus Digital-Non-digital dan seolah dua hal ini adalah dua kubu atau dua kegiatan yang membutuhkan pos budget berbeda.”

Amalia mengusulkan untuk lebih mengacu pada Mengklasifikasikan kegiatan brand komunikasi dari aspek Communication Objectivesnya. Apakah saat ini sebuah brand perlu fokus pada kegiatan Image Building, Apakah keperluannya justru Brand Activation ataukah Sudah dalam proses atau tahapan Customer loyalty.

Setelah Communciation Objectives nya jelas, barulah silakan membahas Campuran Medianya apakah direct vs indirect, massive atau segmented dan seterusnya. Digital atau tidak, itu hanya salah satu pertanyaan Channel. Baru dipikirkan di tahapan akhir, bukan di tahap Awal strategi komunikasi brand.

“Ini merupakan miskonsepsi yang harus diklarifikasi. Tidak usah sibuk memikirkan dikotomi Digital vs Non-Digital karena issue terpentingnya bukan itu. Pemahaman Brand issues dan apa Objective Komunikasi dari sebuah Brand Campaign, itu yang lebih utama untuk dipikirkan dan jangan sampai keliru. Karena, keliru di tahapan strategi level-atas, maka sudah bisa dipastikan, yang terjadi adalah pemborosan budget komunikasi,” tutup Amalia.


Kirimkan Press Release berbagai kegiatan aktifitas Brand Anda ke: infobrandindonesia@gmail.com



Article Related


Sign In
VIP Members

MOST POPULAR











Index

OPINIONS

Index
Elnusa