Menjaga Kerupuk Cinta Para Lansia Desa Tanjung Tetap Renyah


Rumini (57) single parent (janda) anggota Kawat Cinta binaan Pertagas sedang menjemur kerupuk kencur hasil produksi bersama anggota kelompok lainnya. (Foto: Agus Aryanto) Rumini (57) single parent (janda) anggota Kawat Cinta binaan Pertagas sedang menjemur kerupuk kencur hasil produksi bersama anggota kelompok lainnya. (Foto: Agus Aryanto)

JAKARTA - Jam menunjukkan pukul 11.30 WIB, matahari cukup terik dan menyengat. Rumini, lansia berusia 57 tahun bergegas menata tampah berisi keping kerupuk kencur agar segera kering. Sementara, di bawah bilik 5 ada wanita paruh baya lainnya, Jubaedah, Nur, Mulyati, Teti, dan Jasitem, menyelesaikan tugasnya masing-masing, ada yang menggiling dan memotong adonan, mengukus adonan, dan menempel adonan yang telah dikukus ke tampah yang telah disiapkan.

Hari itu cuaca sedang bagus, matahari mendukung kegiatan mereka untuk menyelesaikan target harian, 10 kilo kerupuk kencur kering. Dari pagi pukul 08.00 hingga pukul 12.00 WIB kegiatan mereka membuat adonan hingga mencetaknya menjadi berbagai bentuk, termasuk berbentuk lambang cinta dan menjemurnya hingga kering. Setelah itu, sore hari mulai pukul 15.00 kerupuk yang sudah kering dipanggan dengan alat yang sudah disiapkan.

Demikian kegiatan para lansia anggota Kelompok Wanita Capai Impian dan Cita-Cita (Kawat Cinta) Desa Tanjung, Kecamatan Banyusari, Kabupaten Karawang. Mereka adalah beberapa lansia dan wanita single parent (janda) yang membutuhkan pekerjaan untuk mengisi kegiatan mereka. Selain mereka, masih banyak lansia dan janda di desa tersebut yang membutuhkan pekerjaan.

Jubaedah, 43 tahun, Ketua Kawat Cinta mengungkapkan, di Desa Tanjung dengan jumlah penduduk sekitar 3.000 jiwa, mata pencaharian para orang tua laki-laki dan perempuan sebagai buruh tani di sawah di sekitar desa tersebut, sementara para pemuda dan pemudi bekerja sebagai buruh di pabrik, sebagian lagi merantau ke Taiwan dan Hongkong.

Mirisnya, meskipun Desa Tanjung dikelilingi sawah yang luas, menurut Jubaedah, kebanyakan milik warga luar daerah, sehingga warga setempat hanya menjadi buruh. Sementara meskipun Karawang terkenal dengan kawasan Industri, masih banyak pemuda-pemudi setempat yang kesulitan mendapatkan pekerjaan.

“Kalau yang muda-mudi kebanyakan kerja di Taiwan, kalau sudah tidak laku di Taiwan mereka pergi ke Jakarta, cari kerja ke yayasan penyalur tenaga kerja,” ungkap Jubaedah, saat ditemui infobrand.id, Minggu (27/9/2020).

Sementara itu, untuk para lansia dan janda tidak ada pilihan lain kecuali tetap berada di rumah dan mengerjakan pekerjaan seadanya. Termasuk menjadi anggota Kawat Cinta, menurut Jubaedah masih banyak yang berminat. Hanya saja belum dapat ditampung seluruhnya, karena kegiatannya masih sangat kecil.

Dengan target produksi 25 kilo per dua hari, menurutnya cukup dikerjakan oleh 5 orang. Dari target tersebut, melalui bagi hasil keuntungan, masing-masing anggota akan mendapatkan bagi hasil Rp20 ribu per hari. Jika makin banyak anggotanya, maka pembagiannya akan semakin sedikit. Belum lagi kalau tidak mencapai target harian karena suatu hal, seperti hujan.  

Dengan banyaknya lansia yang berminat, Jubaedah ingin menambah produksi, tidak hanya kerupuk, tapi juga produk lain seperti bawang goreng dan lainnya. Untuk saat ini selain kerupuk kencur, kegiatan lain adalah produksi minuman beras kencur dan jahe sereh (Jareh) yang melibatkan 5 orang lansia, dan menjahit yang melibatkan 4 orang janda.

Asa dari Kawat Cinta

Kawat Cinta sendiri, menurut Jubaedah, dulunya adalah bernama Kelompok Wanita Tani (KWT) Kenanga, yang awalnya dibentuk pada tahun 2017. Saat itu anggotanya mencapai 30 orang, dengan kegiatan produksi kerupuk kencur, wajik, dodol, dan opak. Namun kegiatannya hanya berjalan 1 tahun, terpaksa berhenti karena kekurangan modal.

“Sampai akhir 2018 kegiatannya tinggal produksi kerupuk, anggotanya bubar. Meskipun begitu saya usahakan kelompoknya masih tetap ada,” ujar Jubaedah.

Akhirnya untuk menghidupkan kembali kegiatan tersebut, pada tahun 2018, Jubaedah berinisiatif untuk mencari dukungan dari berbagai pihak, salah satunya dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Pertamina Gas (Pertagas). Prosesnya cukup panjang dan lama, baru akhirnya pada Januari 2020 bantuan dikucurkan dan kegiatan mulai berjalan pada bulan Februari.

Namun bantuan bukan dalam bentuk uang, tapi bantuan pembangunan tempat produksi, peralatan produksi, dan bahan baku selama 1 minggu pertama. Dari modal yang didapatkan kemudian menghasilkan uang dan terus bergulir hingga mampu membeli bahan baku dan menghasilkan keuntungan bagi para anggotanya.

Selain itu, Kawat Cinta juga tengah diminta untuk membentuk kelompok di bawah Kawat Cinta yang bernama Taruna Tani. Kelompok ini beranggotakan 12 orang, terdiri dari bapak-bapak dan para pemuda, yang tugasnya membudidayakan tanaman jahe merah sebagai bahan baku minuman Jareh.

“Selain itu juga ada rencana budidaya jangkrik dan lele terpal. Sudah disurvei, harapannya bulan depan sudah bisa jalan,” ungkap Jubaedah.

Bertahan di Masa Covid-19

Adapun roadmap program Kawat Cinta setelah program mulai berjalan, tahun ini ditargetkan ada inovasi produk makanan olahan berbasis potensi lokal, sertifikasi Produk Industri Rumah Tangga (PIRT), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan Uji kandungan gizi produk. Selanjutnya di tahun 2021, Kawat Cinta diharapkan bersinergi dengan program BUMDes, inisiasi galeri produk mitra binaan, dan perluasan pemasaran produk. Dan tahun 2022, akan dilakukan rintisan program zero waste, replikasi program, hingga menjadi percontohan desa mandiri.

Namun program tersebut bukan tanpa kendala. Akibat Pandemi Covid-19, kegiatan pemasaran kerupuk kencur sempat berhenti, saat itu tepatnya pada saat bulan puasa. Menyikapi tantangan tersebut, Pertagas telah merespon dengan beberapa kegiatan, di antaranya mitigasi resiko dengan koordinasi melalui daring, dan penyesuaian jadwal dan penerapan protocol covid.

Agar anggota tetap dapat bekerja, Pertamina Gas akhirnya memberikan bantuan dua unit mesin jahit dan orderan membuat goody bag dan masker, serta penyaluran produk mitra binaan dalam bentuk sembako. Selain itu juga dilakukan rekonstruksi produk berupa inovasi produk olahan berbahan baku herbal, seperti teh sereh.

Corporate Secretary Pertagas, Fitri Erika dalam konferensi pres belum lama ini juga mengatakan, Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan perusahaan untuk melakukan tanggungjawab dalam menjalankan program CSR. Pihaknya tetap menjalankan program tersebut kendati dengan berbagai penyesuaian. Hal itu membuat para mitra bisaan beradaptasi dan melakukan penyesuaian selama pandemi.

Jubaedah menambahkan, Pandemi Covid-19 sempat membuat aktivitas di kelompok tersebut terhenti. Waktu itu menjelang puasa Ramadhan 2020, akibat pengetatan kegiatan di luar rumah memaksa kegiatan haru dihentikan. Termasuk kegiatan pemasaran ke sejumlah daerah, di tambah bulan puasa, permintaan akan makanan juga berkurang.

Namun beruntung ada bantuan lain dalam bentuk mesin jahit dan orderan membuat goodie bag dan masker. Namun yang terpenting, setelah orderan tidak lagi ada, anggota kelompok bisa memanfaatkan mesin jahit itu untuk usaha yang lain, seperti menerima pesanan jahit baju dari masyarakat yang membutuhkan.

Jubaedah dan anggota Kawat Cinta merasa sangat terbantu dengan hadirnya program CSR Pertagas. Mereka berharap pandemi covid-19 segera berakhir, sehingga kegiatan program yang sudah direncanakan dalam roadmap hingga tahun 2022 dapat berjalan dengan baik. Dia meyakini ketika pemasaran produk sudah semakin luas dan kegiatan semakin banyak, akan lebih banyak lansia dan janda yang terbantu dengan Program Kawat Cinta.

Harapan itu seperti kerupuk kencur hasil produksi para lansia dan janda anggota Kawat Cinta. Jangan sampai melempem hanya karena pandemi covid-19. Semoga kerupuk cinta para lansia dan janda itu masih tetap renyah saat kerupuk itu dikonsumsi.(ags)


Tags : #csr #pertagas #kawatcinta