JTTS Membuat Perjalanan ke Sumatera Menyenangkan dan Dirindukan


Jalan Tol Trans Sumatera, pesimpangan Kayu Agung Indralaya dan Palembang, di Kota Palembang. (Foto: Agus Aryanto) Jalan Tol Trans Sumatera, pesimpangan Kayu Agung Indralaya dan Palembang, di Kota Palembang. (Foto: Agus Aryanto)

JAKARTA - Melakukan perjalanan di pulau Sumatera masih dipandang sesuatu yang menakutkan oleh sebagian orang. Perjalanan yang panjang, melewati belantara hutan, dan jauh dari pemukiman penduduk membuatnya sangat dihindari oleh kebanyakan orang. Tidak mengherankan jika kemudian banyak orang lebih memilih menggunakan pesawat terbang untuk mudik dari Jakarta misalnya ke kota-kota yang ada di Sumatera, seperti Lampung, Palembang, Bengkulu, Jambi, Riau, Padang, Medan, atau Aceh.

Namun saya yakin dengan pengalaman yang akan saya ceritakan ini akan mengubah persepsi bahwa perjalanan ke Sumatera itu sangat menyenangkan. Yah, setidaknya itu yang saya rasakan saat melakukan perjalanan di Bulan Desember 2020 lalu, saat mudik dari Jakarta ke kampung halaman di Kota Muara Bungo, Kabupaten Bungo, Provimsi Jambi. Saat itu saya bersama bersama keluarga kecil, terdiri dari istri dan anak semata wayang berusia 9 tahun, di tambah adik ipar dan anaknya berusia 4 tahun.

Tidak ada orang dewasa lainnya. Tidak takut? Tidak, saya merasa percaya diri melakukan perjalanan itu. Padahal itu adalah perjalanan saya yang pertama, dalam artian membawa mobil sendiri, tanpa pemandu jalan dari orang yang sudah berpengalaman melakukan perjalanan ke Sumatera. Alasan kedua, karena kini sudah ada Jalan Tol Trans Sumatera yang sudah tersambung dari Bakauheni hingga ke Palembang.

Kok berani sekali? Ya, sejujurnya saya pernah beberapa kali melakukan perjalanan ke Sumatera, terakhir tahun 2012, waktu itu bersama paman dan keluarganya dan menyewa supir serep. Berdasarkan pengalaman tersebut, saya pun memberanikan diri untuk melakukan perjalanan ke Sumatera dengan mobil sendiri, dan supir serepnya saya percayakan pada istri saya sendiri.

Perjalan dimulai di hari terakhir saya masuk kerja, tepatnya hari Rabu tanggal 23 Desember 2020 malam sekitar pukul 20.00 WIB. Untuk menuju Sumatera tujuan pertama tentu Pelabuhan Penyeberangan Merak menuju Bakauheni Lampung. Sesampainya di Bakauheni, saya menjemput adik ipar di Lampung, sekitar satu jam perjalanan dari Bakauheni, dan setengan jam dari Exit Tol Sido Mulyo.

Perjalanan akhirnya kami hari Kamis pagi pukul 09.00 WIB. Benar saja, perjalanan itu kami awali dengan sangat menyenangkan, istirahat sekali di Rest Area sekitar pukul 12.00 WIB, dua jam perjalanan berikutnya atau pukul 14.00 WIB kami sudah sampai di Palembang. Jadi dari Bakauheni sampai ke Palembang hanya kami tempuh dalam waktu 5 jam perjalanan. Sangat jauh berbeda dengan pengalaman terakhir saya di tahun 2012, yang membutuhkan waktu hampir 1 hari atau 10 jam, dari Bakauheni sampai ke Palembang.

Perjalanan berikutnya dari Palembang hingga simpang Tempino, Muara Bulian, Jambi. Perjalanan di sini yang bisa dibilang paling melelahkan, karena memakan waktu hingga 12 jam. Dari Muara Bulian Pukul 02.00 WIB, sampai ke tujuan, di Muara Bungo tepat pukul 06.00 pagi, artinya dari Muara Bulian ke Muara Bungo menempuh waktu 4 jam saja. Jadi total perjalanan di Sumatera dari Bakauheni sampai me Muara Bungo adalah 21 Jam.

Dari perjalanan tersebut, yang paling memakan dari Palembang hingga ke Muara Mulian. Perjalanan menjadi begitu lama karena terjadi kemacetan di sejumlah titik seperti di Jalan Lintas Sumatera, di Betoeng dan Sungai Lilin, membuat waktu perjalanan menjadi molor hingga 6 jam. Padahal normalnya ruter tersebut dapat ditempuh dalam waktu 5-6 jam.

Jarak Palembang-Jambi sendiri sejauh 277 kilometer, sementara Pelembang-Bakauheni sejauh 388 kilometer. Andai saja sudah ada tol Palembang-Jambi, tentu waktu tempuhnya menjadi lebih singkat, mungkin hanya 3-4 jam, dan tanpa ada resiko molor karena macet.

Secara keseluruhan, bagi saya perjalanan tersebut sangat menyenangkan dan tidak melelahkan. Karena buktinya saya hanya beristirahat dua kali, pertama di tol dan kedua di Sungai Lilin. Mengenai Jalan Tol Trans Sumatera Ruas Palembang-Jambi saat ini tengah dalam progres pembangunan. Suatu saat setelah tol tersebut jadi, setidaknya Bakauheni-Jambi sudah terhubung jalan tol, saya ingin pulang lagi, yang pastinya akan lebih menyenangkan, karena lebih singkat. Mungkin berangkat pagi, dari Bakauheni, sore hari di hari yang sama saya sudah sampai ke tujuan di Muara Bungo.

Demikian sepenggal cerita pengalaman perjalanan saya di Pulau Sumatera yang menyenangkan dan membuat saya rindu untuk melakukannya lagi. “Besok kalau jalan tol-nya sudah sampai ke Jambi kita mudik lagi,” ujarku kepada istri yang juga merasa senang dengan perjalanan kami.

Multiplier Effect  

Hal menarik lain yang saya temukan dari perjalanan tersebut adalah, pengguna Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ternyata lebih banyak ditemui mobil pengangkut barang ketimbang mobil pribadi. Satu lagi, memang jalan tol masih sepi, tapi setelah keluar tol dan masuk jalan non tol Jalan Lintas Sumatera, ternyata terjadi kemacetan di beberapa titik, artinya pengguna jalan sebetulnya cukup banyak, hanya saja karena jalan tol sangat lancar membuat lalu lintas tidak menumpuk di titik-titik tertentu.

Setelah merasakan nyamannya melintasi jalan tol dan melelahkannya melalui jalan non tol, saya yakin yang berharap Jalan Tol Trans Sumatera segera tersambung dari Bakauheni hingga ke Aceh bukan saya saja. Tapi hampir semua orang, terutama mereka yang sering melakukan perjalanan antar kota di pulau Sumatera. Sebab berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga tahun 2019 lalu Pulau Sumatera menempati urutan kedua di Indonesia untuk jumlah kendaran bermotor, mencapai 27 juta unit, dan mengalami pertumbuhan 5,41% per tahunnya.

Belum lagi, jumlah kendaraan yang menyeberang dari Pulau Jawa ke Sumatera. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir dalam sebuah kesempatan mengatakan, dengan adanya jalan tol yang ruas Lampung-Palembang telah meningkatkan kendaraan dari Jawa ke Sumatera hingga 40%. Hingga tahun 2020 lalu, PT Angkutan Sungai Danau Penyeberangan Indonesia Ferry (ASDP) Persero pun menyebut 60% dari total penumpang ASDP sebanyak 49 juta, berada di Pelabuhan Merak-Bakauheni, atau hampir 30 juta penumpang.

Dengan peningkatan trafik tersebut, tentu multiplier effect yang akan ditimbulkan juga akan lebih banyak lagi. Setelah perjalanan antar kota di Sumatera semakin singkat, arus barang semakin cepat, membuat distribusi barang dari Jawa ke pulau dengan jumlah penduduk terbanyak kedua di Indonesia mencapai 58 juta jiwa itu menjadi semakin lancar.

Tidak hanya itu, Sumatera juga dikenal dengan sejumlah destinasi wisata alam dan budaya yang sangat terkenal namun masih kurang popular bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Alasannya karena lokasinya yang jauh, membuat masyarakat enggan untuk mengunjungi. Tapi dengan sudah terhubungnya Jalan Tol Trans Sumatera, lalu lintas antar kota menjadi semakin singkat, pastinya membuat masyarakat tidak ragu untuk menjelajahi tempat-tempat wisata di Pulau Sumatera itu.

Progres Pembangunan JTTS

Hingga tahun 2020, PT Hutama Karya (Persero) sebagai pelaksana proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) telah membangun 1.156 kilometer, dengan 643 kilometer di antaranya sedang dalam tahap konstruksi. Selain itu hingga Januari 2021 perusahaan pelat merah ini juga menggarap delapan ruas JTTS lainnya.

Kedelapan ruas tersebut adalah; Tol Sigli-Banda Aceh sepanjang 60 kilomter dengan progres 63%. Tol Pekanbaru-Pangkalan sepanjang 83 kilomter dengan progres 41%. Kemudian Tol Padang-Sicincin sepanjang 37 kilometer dengan progres 36%. Tol Bengkulu-Taba Penanjung sepanjang 18 kilometer dengan progres 80%. Indralaya-Muara Enim sepanjang 121 kilometer dengan progres 19%. Tol Binjai-Pangkalan Brandan sepajang 58 kilometer dengan progres 27%. Tol Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Parapat sepanjang 143 kilometer dengan progres konstruksi 59%. Dan Tol Kisaran-Indrapura sepanjang 48 kilometer dengan progres 17%.

“Meski di tengah pandemi Covid-19 progres kontruksi pembangunan proyek jalan tol tetap berjalan,” kata Direktur Utama Hutama Karya Budi Harto, dalam keterangan tertulis yang diedarkan ke media bulan Februari 2021 lalu.

Pemerintah sendiri menargetkan JTTS dengan total panjang 2.878 kilometer itu akan rampung di tahun 2024 mendatang. Presiden Joko Widodo dalam beberapa kesempatan mengatakan, bahwa percepatan pembangunan JTTS sangat diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, sekaligus pemerataan kesejahteraan masyarakat di Pulau Sumatera. Sebab tol tersebut akan menjadi akses utama guna mengefisiensikan waktu tempuh dan pada akhirnya memberikan multiplier effect terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 2 - 3 kali lipat.

Setelah merasakan pengalaman perjalanan melintasi Jalan Tol Trans Sumatera, melihat potensi manfaat yang ditimbulkan, dan progres pembangunan yang terus berjalan, saya meyakini persepsi masyarakat tentang perjalanan di Sumatera yang menakutkan menjadi perjalanan yang menyenangkan akan segera terjadi. Pertama mobilitas masyarakat yang memang berdomisili di Pulau Sumatera akan semakin tinggi. Kedua, masyarakat dari pulau Jawa yang ingin ke Sumatera tidak akan ragu lagi untuk menggunakan perjalanan darat.

Hal itu tentu akan membuat trafik lalu lintas JTTS akan semakin ramai. Seperti Jalan Tol di Pulau Jawa yang selalu ramai dengan berbagai aktivitas, mulai dari armada pengangkutan barang, pengangkutan penumpang dan mobil pribadi. Pada musim tertentu, seperi lebaran, jalan tol menjadi lintas utama aktivitas mudik yang selalu menyenangkan dan selalu dirindukan.(***)

Agus Aryanto


Tags : #hutamakarya #jalantoltranssumatera