Jum'at, 23 Februari 2024

Follow us:

infobrand

Ini Strategi Agar Pertarungan di Pasar Fixed Broadband Tidak Terjebak Perang Tarif

Posted by: 1199 viewer

Ini Strategi Agar Pertarungan di Pasar Fixed Broadband Tidak Terjebak Perang Tarif
Pertarungan di Pasar Fixed Broadband Tidak Terjebak Perang Tarif

INFOBRAND.ID-Pandemi Covid-19 turut mendorong pertumbuhan pengguna fixed broadband di Indonesia. Pertumbuhan tersebut tak lepas dari hampir seluruh aktivitas selama pandemi—baik bekerja, belajar, berbelanja, dan sebagainya—dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet.

Sejatinya, pertumbuhan tersebut merupakan potensi bisnis yang menjanjikan. Tak heran, jika jumlah pemain yang menggarap segmen fixed broadband pun meningkat. Bahkan, mereka pun tampak agresif demi menaklukkan hati pelanggan.

Deretan pemain yang tampak serius menggarap pasar fixed broadband adalah IndiHome, First Media, Biznet, MyRepublic, MNC Play, CBN, Link Net, dan Oxygen. Termasuk operator selular juga ikut kepincut dengan menghadirkan layanan sejenis. Sebut saja, XL Home dari XL Axiata dan HiFi dari Indosat Ooredoo Hutchison). PLN pun ikut masuk dengan brand Iconnet. Paling anyar, demi memperkuat segmen fixed broadband-nya, XL Axiata mengakuisisi First Media dari Lippo Group.

IKLAN INFOBRAND.ID

Merujuk data APJII (Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia) pada Juniu 2022, di pasar fixed broadband, IndiHome masih menjadi market leader, dengan menguasai pangsa pasar sebesar 67,54%. Selanjutnya, diikuti oleh First Media 3,88%, MNC Vision 2,88%, IConnect 2,24%, BizNet 1,54%, dan Oxygen 1,04%.

Diungkapkan Vice President Marketing Management Telkom E. Kurniawan, yang akrab disapa Iwan, pada acara Selular Business Forum yang digelar hari ini (25/10), di Jakarta, “Tren pemakaian fixed broadband pasca pandemi rupanya tidak berubah atau tidak mengalami penurunan. Hasil survey mengungkapkan bahwa 75% konsumen Indonesia memutuskan untuk tetap memakain layanan fixed broadband.”

Tren ini terjadi juga di IndiHome. Menurut Iwan, sampai saat ini, konsumsi internet pelanggan IndiHome mencapai 67 petabyte per hari. Sementara itu, ada 187 juta device yang terkoneksi dengan IndiHome. “Ini membuktikan bahwa kebiasaan di masa pandemi dengan menggunakan fixed broadband tetap berlanjut hingga sekarang, meski mobilitas dan aktivitas di luar rumah sudah mulai pulih.

Diakui Iwan, pertumbuhan pasar fixed broadband yang siginifkan berakibat pada perang tarif. Salah satu contohnya, ada brand yang menawarkan bayar 7 bulan, namun konsumen bisa memperoleh layanan jaringan internet hingga 12 bulan.

Namun, IndiHome tidak ingin terbawa arus perang tarif. “Kami memilih meningkatkan kualitas dengan fokus pada menaikkan mbps dengan harga berlangganan yang tetap sama. Saat ini, ada 80% pelanggan kami yang memiliki paket langganan 10 mbps. Target kami ke depan, mereka bisa memperoleh layanan 40 mbps,” lanjut Iwan.

IKLAN INFOBRAND.ID

Lebih jauh ia menegaskan, berdasarkan data pelanggan IndiHome, kemampuan konsumen Indonesia untuk berlangganan fixed broadband per bulannya mencapai Rp 280 ribu per bulan untuk 30 mbps. “Harga ini menunjukkan penurunan terus Jika dibandingkan dulu, di mana 10 mbps mereka harus membayar Rp 400 ribu per bulan,” tandas Iwan.

IndiHome juga memiliki strategi jitu untuk menggaet pelanggan, yakni dengan mengusung konsep Window of Entertainment. Dia mencontohkan, IndiHome menyediakan konten menarik yang bekerja sama dengan 14 OTT (Over the Top) partner seperti Netflix, MOLA, Vidio, WeTV, serta memiliki variasi paket sesuai kebutuhan pelanggan, mulai dari paket 30 Mbps hingga 300 Mbps.

 

Pada kesempatan yang sama, ditambahkan CEO Selular Uday Rayana, persaingan ketat antar pemain fixed broadband menjadikan harga sebagai instrument utama dalam memenangkan pasar. “Dengan ratusan penyelenggara yang ada di bisnis ini, potensi munculnya perang tarif, dapat saja terjadi," ucapnya.

Lebih jauh ia menegaskan, berdasarkan data pelanggan IndiHome, kemampuan konsumen Indonesia untuk berlangganan fixed broadband per bulannya mencapai Rp 280 ribu per bulan untuk 30 mbps. “Harga ini menunjukkan penurunan terus Jika dibandingkan dulu, di mana 10 mbps mereka harus membayar Rp 400 ribu per bulan,” tandas Iwan.

IKLAN INFOBRAND.ID

Kendati persaingan mulai ketat, Uday berharap agar penyedia jasa fixed broadband tidak semata mengandalkan tarif murah sebagai instrumen utama dalam menarik pelanggan. Pasalnya, tarif murah akan menjadikan industri startegis ini menjadi tidak sehat.

“Belajar dari persaingan tarif di industri selular yang membuat operator berdarah-darah, maka kunci untuk untuk bisa tetap survive, operator perlu menerapkan tiga strategi secara konsisten,” sarannya.

Pertama, penerapan tarif harus affordable. Tidak berarti harus murah tapi terjangkau oleh masyarakat. “Jika terlalu murah namun tidak wajar, maka selintas bagus untuk konsumen. Namun itu hanya bersifat jangka pendek, karena jangka panjangnya operator terancam bangkrut,” Uday mengingatkan.

Kedua, harus sustainable. Artinya, industri harus sustain atau berkelanjutan. Operator yang beroperasi harus mampu bertahan. Karena jika collapse, masyarakat juga akan dirugikan atau kualitas layanan bisa menurun.

Ketiga, harus merata. Artinya, operator harus membangun di semua wilayah sehingga ketersediaan layanan menjadi merata ke seluruh wilayah Indonesia.

Baca berita lainnya di Google News


Share This Article!

Video Pilihan dari INFOBRAND TV

Article Related


Garuda Indonesia Luncurkan Pesawat Pokemon

Garuda Indonesia Luncurkan Pesawat Pokemon
INFOBRAND.ID - Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia, secara resmi mengumumkan peluncuran livery terbarunya yakni kartun Pokemon yang lucu pa...


Lindungi Pengguna, WhatsApp akan Batasi Screenshot Foto Profil

Lindungi Pengguna, WhatsApp akan Batasi Screenshot Foto Profil
INFOBRAND.ID, JAKARTA - Aplikasi pesan instan, WhatsApp, tengah melakukan pengetesan untuk pembatasan tangkapan layar atau screenshot pada foto profil...


Garuda Indonesia Laksanakan CNY Sales Blitz di Kuala Lumpur

Garuda Indonesia Laksanakan CNY Sales Blitz di Kuala Lumpur
INFOBRAND.ID, JAKARTA - Maskapai nasional Garuda Indonesia menggelar "Chinese New Year (CNY) Sales Blitz 2024" selama empat hari sejak 19 Fe...


Analisis Ekonomi: Tahan BI-Rate di level 6% dapat Menekan Inflasi jelang Ramadhan

Analisis Ekonomi: Tahan BI-Rate di level 6% dapat Menekan Inflasi jelang Ramadhan
INFOBRAND.ID - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20-21 Februari 2024 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 6,00%, suku bunga De...