Senin, 27 Mei 2019

Follow us:

infobrand

infobrand

Keniscayaan Membangun Brand Lewat Digital

Posted by: 13-03-2019 15:38 WIB 120 viewer

Keniscayaan Membangun Brand Lewat Digital
Ilustrasi bisnis digital (Istimewa)

Perkembangan teknologi informasi merubah peradaban manusia. Bila dulu untuk mendapat informasi peristiwa hari ini, baru esok harinya masyarakat dapat mengetahuinya. Kini eranya telah berubah. Gelombang informasi  membuat masyarakat  berselancar dengan  teknologi internet dengan begitu cepat. Dunia bagaikan global village yang berada di genggaman tangan.

Menurut Tri Raharjo, Founder & Chairman TRAS N CO, fenomena demikian juga berimplikasi pada perubahan pola dalam membangun brand. Para pelaku usaha membangun  brand dengan mengandalkan kekuatan iklan melalui media konvensional, seperti cetak, elektronika (tv dan radio) dan media luar ruang.  Namun sekarang pakem tersebut tidak selamanya benar. Teknologi digital telah  merontokkan konsep dalam membangun brand. Betapa tidak, saluran informasi – sebagai  salah satu kekuatan instrumen membangun  brand, membuat para pemilik brand dituntut kepiawaiannya berakrobatik menyusun langkah pemasarannya untuk memenangkan pasar.

Saat ini menurut laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), sepanjang tahun 2017 lebih dari 50 persen atau sekitar 143 juta orang telah terhubung jaringan internet. Kepemilikan  smartphone di Indonesia mencapai lebih dari 100 juta jiwa. Tren demikian memberikan perubahan yang sangat signifikan terhadap perilaku konsumen. Perubahan perilaku tersebut terutama didorong oleh perkembangan media sosial, e-commerce, dan sharing economy.

Alex Iskandar, menambahkan, sebelum era digital,  brand-brand yang masuk kategori top of mind sulit digeser dengan brand pendatang baru. Tapi sekarang jaman sudah berubah. Di era sekarang, merk-merk follower yang sebelumnya kecil  boleh jadi bisa menyalip dalam satu atau dua tahun bila marker leader tak lekas berbenah. “Dengan  Rp 100 juta, pemilik brand bisa beriklan 3 sampai 4 bulan dengan dahsyat melalui saluran komunikasi digital. Sebelumnya, produksi iklannya saja bisa sampai Rp 3 milyar,” ungkapnya.

Mengutip cerita Amalia Maulana, pakar pemasaran   ETNOMARK Consulting. Di jaman sekarang  komunikasi sudah bisa dilakukan dengan biaya yang sangat rendah melalui internet.  Hal ini menurunkan entry barrier masuk ke bisnis. Tidak harus memiliki budget yang luar biasa besar karena media massa bukan lagi sebuah keharusan. Pengelolaan yang optimal dari media internet termasuk media sosial menggantikan peranan media massa. Pesan tentang produk dan services bisa disampaikan secara lebih efektif dan efisien, dengan biaya rendah.

Agus Nurudin, Managing Director PT Nielsen Indonesia berpendapat, akselerasi  tren digital memang semakin kuat karena ini penetrasi baru dan  terkait dengan digital consumer behaviour.  Dengan adanya media digital, konsumen semakin dimudahkan  aksesnya dalam membeli produk.  Penetrasi  internet pun  semakin bagus.  Saat ini pengguna internet   sudah mencapai 48% dari total penduduk Indonesia. Jumlahnya sudah mencapai  100 juta lebih.

“Dari data kami di tahun 2015,  80%  pengguna internet mengakses internet lewat mobile phone.  Dan yang  mengakses belanja online  (online shopper) naik  78%. Ini angka sangat tinggi! Masyarakat semakin dimudahkan dengan akses digital marketing.  Dan, sangat menarik bahwa aplikasi online shop saat ini  penetrasinya 63%,   tertinggi nomor dua setelah social media yang 99% dari pengguna smartphone memiliki aplikasi  seperti facebook, instagram dan sebagainya,”papar Agus.  

Tapi menurutnya, penetrasi dari media televisi masih di 95%. Semakin meningkatnya penggunaan media digital menciptakan asumsi kalau media digital mendominasi media konvensional.  Ternyata belum tentu juga. Ia memberi contoh! Sekitar 97% Generasi Z (10–19 tahun)  masih menonton televisi, 50% mengakses internet, 33% mendengarkan radio, 7% menonton televisi berbayar dan 4% membaca media cetak. Sedangkan Generasi Milenial (20 – 34 tahun), 96% dari mereka menonton televisi dan 58% mengakses internet. 

Managing Partner Inventure, Yuswohady  angkat bicara. Peran milenial sebagai recommender  sangat besar karena suka sharing product dan komunikasi kita. Kalau bicara Gojek,    merk-merk yang memang lahir di era digital itu tak sulit melakukan penetrasi pasar karena mereka  sudah bersentuhan dari kecil dengan dunia digital.

Amalia menimpali, “Pembahasan  konsep membangun  brand di kalangan generasi milenial seperti sekarang semakin luas. Banyak hal yang perlu dikaji kembali.  Misalnya,  unsur-unsur best brand dengan mempertimbangkan kondisi sekarang. Dulu, konsumen banyak dipengaruhi oleh iklan tv  maupun cetak sehingga porsi brand awareness dan ad awareness tinggi. Sekarang  hal itu bergeser. Kontribusi ad awareness tidak sebesar dulu lagi dalam menyumbang penilaian merek-merek terbaik.

Kini promosi tradisional (melalui media massa) bisa diintegrasikan dengan promosi menggunakan teknologi digital untuk tujuan branding. Di mana konsumen digiring sebagai “sahabat” dalam platform digital. Kondisi ini yang menyebabkan membangun brand lewat media digital menjadi suatu keniscayaan di era revolusi ke-4, bila brand tidak ingin tergerus di tengah rimbah persaingan yang ketat.

Sementara sukses memanfaatkan teknologi digital sangat tergantung dengan isi pesan (content) yang dikemas dalam media digital. Walaupun platform digital telah dibangun dengan begitu canggih, tapi sejauhmana content  yang dirancang dalam menyampaikan pesan menyentuh nilai proximity khalayak?. Masalah content menjadi hal menarik yang perlu mendapat perhatian serius dalam membangun brand.

Bayangkan, kekuatan brand melalui digital (media sosial) dapat spesifik ditujukan kepada target brand yang ingin di sasar, baik melalui demografi, jenis kelamin, usia dan sebagainya. Dengan semakin ter-segmented  sasaran konsumen yang ingin dicapai, maka bukan tidak mungkin brand yang tadinya masuk dalam kategori top of mind akan tergeser dengan brand-brand pendatang baru.

Yuswohady mengungkapkan, Secara umum dalam marketing digital pear to pear , terjadi pemasaran horizontal  dengan  memanfaatkan customer sebagai advocator, sebagai  influencer .  Berbeda dengan strategi pemasaran jaman dulu  yang menggunakan endorser yang notabene dibayar.

Sekarang authenticity itu jadi penting.  Sesuatu yang orisinil, tidak dibikin-bikin, jujur, penuh keikhlasan karena customer dalam hal ini  tidak dibayar. Orang merekemondasikan satu brand bukan karena  mereka  dibayar. Di era digital ini, customer bicara karena produknya memang bagus dan bukan jualan. Makanya ada rating dan review itu omongannya customer dengan segala kepolosannya.

Yuswohady menilai, kalau marketing digital dibilang gampang, ternyata tidak juga. Memaksa customer mengatakan satu produk itu bagus, itu adalah challenge nya memasuki digital marketing.  Jadi dalam hal ini produsen memanfaatkan customer sebagai recommender atau advocator dari brand nya. “Tapi  produknya memang harus betul-betul bagus,”tukasnya. []


Kirimkan Press Release berbagai kegiatan aktifitas Brand Anda ke: infobrandindonesia@gmail.com



Article Related


Rahasia Agar Tetap Fokus Berkendara Selama Puasa

Rahasia Agar Tetap Fokus Berkendara Selama Puasa
JAKARTA, INFOBRAND.ID – Menjalani aktivitas di tengah ibadah puasa menjadi tantangan besar bagi umat muslim di seluruh dunia. Terutama bagi mere...


Membangun Rencana Transformasi Bisnis Digital

Membangun Rencana Transformasi Bisnis Digital
INFOBRAND.ID - Penyesalan terbesar di dunia investor Silicon Valley adalah melewati kesempatan menanamkan modal di bisnis Facebook diawal pengembangan...


4 Cara Nikmati Liburan Keluarga Saat Ramadhan ala OYO Hotel

4 Cara Nikmati Liburan Keluarga Saat Ramadhan ala OYO Hotel
JAKARTA, INFOBRAND.ID – Berpuasa bukanlah suatu halangan untuk bisa menikmati liburan. Apalagi, puasa tahun ini bertepatan dengan musim libur se...


6 Faktor Utama Agar Brand Bisa Tumbuh di Pasar Kompetitif

6 Faktor Utama Agar Brand Bisa Tumbuh di Pasar Kompetitif
JAKARTA, INFOBRAND.ID – Pada tahun 2018 lalu, perekonomian di Indonesia berkinerja cukup baik. Begitu juga dengan pasar FMCG (Fast Moving Consum...