Rabu, 12 Mei 2021

Follow us:

infobrand

infobrand

Kerja Jarak Jauh Jadi Pilihan Permanen Para Karyawan

Posted by: 29-04-2021 16:05 WIB 98 viewer

Kerja Jarak Jauh Jadi Pilihan Permanen Para Karyawan
Kerja jarak jauh dari manapun.

JAKARTA, INFOBRAND.ID - Satu tahun setelah COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi, Global Crisis Survey PwC yang kedua mengamati tanggapan dari komunitas bisnis di seluruh dunia terhadap krisis global paling disruptif dalam hidup kita. Lebih dari 2.800 pemimpin perusahaan yang mewakili berbagai skala bisnis di 29 industri dan 73 negara (termasuk Indonesia), berbagi data dan wawasan dalam survei tersebut.

Global Crisis Survey 2021 adalah survei kedua yang diadakan oleh PwC, setelah survei pertama yang dirilis pada tahun 2019. Hasilnya, lebih dari 70% responden global, termasuk Indonesia, mengatakan bisnis mereka terkena dampak negatif pandemi dan 20% mengatakan krisis berdampak positif secara keseluruhan pada organisasi mereka. Organisasi yang sukses lebih cenderung mengandalkan tim krisis khusus untuk dapat merespon krisis dengan tepat.

Sektor teknologi dan healthcare lebih mungkin terkena dampak positif, sementara sektor pariwisata dan perhotelan mengalami efek paling negatif. Organisasi yang bernasib baik lebih cenderung mengandalkan tim krisis yang berdedikasi untuk mendorong respons mereka terhadap krisis. Tenaga kerja, kegiatan operasional dan supply chain, serta keuangan dan likuiditas adalah area yang paling terkena dampak dengan respons serupa dari Indonesia dan global.

IKLAN INFOBRAND.ID

Kristin Rivera, Global Crisis Leader di PwC AS mengatakan, data dan hasil dari survei menyajikan roadmap yang menarik untuk memikirkan kembali dan memperkuat kemampuan organisasi untuk bertahan. Belajar dari bagaimana bisnis merespon krisis adalah langkah pertama yang penting untuk membangun fondasi yang tepat untuk menghadapi apa pun yang dapat terjadi berikutnya.

“Perencanaan krisis, program ketahanan dan perlindungan serta pertimbangan akan kebutuhan fisik dan emosional karyawan adalah bagian integral untuk bersiap menghadapi hal-hal yang tak terhindarkan,” jelas Kristin.

IKLAN INFOBRAND.ID

Survei PwC mengungkapkan bahwa, bahkan dengan tim krisis yang ditetapkan dengan baik, perusahaan memerlukan program manajemen krisis yang tangkas dan yang dapat beradaptasi untuk mengatasi berbagai jenis disrupsi. Hanya 35% organisasi memiliki rencana respon krisis yang “sangat relevan”, yang berarti sebagian besar organisasi tidak merancang rencana bisnisnya untuk menjadi “agnostik krisis” - ciri khas organisasi yang tangguh.

Paul van der Aa, selaku Forensic Advisor di PwC Indonesia, mengatakan bahwa, dibandingkan dengan hasil Global baru-baru ini, delapan dari sepuluh organisasi di Indonesia melaporkan bahwa mereka berencana untuk meningkatkan investasi mereka dalam membangun ketahanan melalui manajemen krisis, kelangsungan bisnis dan perencanaan darurat. Bahkan di antara para risk leader, angka itu mencapai sembilan dari sepuluh.

IKLAN INFOBRAND.ID

“Ada banyak cara untuk dijalankan, hanya 22% dari responden kami yang merasakan bahwa berbagai fungsi manajemen krisis mereka terintegrasi dengan sangat baik,” ungkap Paul.

Kerja Jarak Jauh

IKLAN INFOBRAND.ID

Dari dampak pandemi, perusahaan harus mempercepat transformasi di area tertentu dan menurunkan prioritasnya di area lain. Dalam hal ketenagakerjaan, kerja jarak jauh adalah perubahan yang paling umum diterapkan, sementara banyak organisasi terpaksa melakukan pengurangan jumlah pegawai. Menariknya, 50% responden Indonesia telah menjadikan kerja jarak jauh sebagai pilihan permanen bagi karyawan mereka, sementara hanya 39% responden global yang menetapkan kerja jarak jauh permanen.

Infrastruktur pendukung dan kapabilitas mengolah data sangat penting, terutama karena kerja jarak jauh memenuhi kebutuhan akan cara pengambilan keputusan yang jelas dan memicu risiko serangan dunia maya. Sebanyak 90% responden Indonesia (75% secara global) mengatakan bahwa teknologi telah memfasilitasi koordinasi tim tanggap krisis organisasi mereka.

Hampir 70% responden Indonesia menyatakan bahwa mereka telah melakukan formal “after action” review atas tanggapannya terhadap COVID-19, sedangkan hanya 49% responden secara global yang telah melaksanakan review tersebut. COVID-19 tetap menjadi ancaman di masa depan, tetapi masalah organisasi lainnya masih tetap ada. Menurut responden Indonesia, lima masalah utama krisis adalah pandemi global, gangguan teknologi, kejahatan dunia maya, gangguan persaingan atau pasar, dan keuangan atau likuiditas.

Lebih dari 95% pemimpin bisnis, baik di Indonesia maupun global, melaporkan bahwa kapabilitas manajemen krisis mereka perlu ditingkatkan. Untuk merancang rencana penanggulangan krisis strategis, pertama-tama perusahaan harus menunjuk tim penanggulangan krisis yang dapat menyelaraskan rencana krisis dengan strategi, sasaran dan tujuan perusahaan; dan fokus pada peningkatan berkelanjutan dan membangun program ketahanan terintegrasi.

Selain itu, perusahaan perlu memahami bahwa program terintegrasi sangat penting untuk melaksanakan respons krisis yang sukses dan untuk membangun ketahanan. Pikirkan secara holistik tentang bagaimana membangun ketahanan, mulailah memecah silo, dan mengintegrasikan kompetensi ketahanan inti.

Ketahanan organisasi sangat penting - tidak hanya untuk keberhasilan organisasi, tetapi untuk bertahan hidup. Organisasi harus meningkatkan ketahanan organisasinya, menetapkan prioritas yang strategis, mulai menumbuhkan budaya ketahanan, dan memeriksa respon krisis di seluruh organisasi.

Dalam CEO Survey tahunan PwC ke-24, yang diterbitkan awal bulan ini, 76% CEO percaya bahwa pertumbuhan ekonomi global akan membaik pada tahun 2021. Optimisme tersebut sejalan dengan data Global Crisis Survey PwC 2021, di mana tiga dari empat perusahaan yakin dapat berhasil mengintegrasikan apa yang telah dipelajari melalui krisis dan memperkuat ketahanan organisasinya.

Sebagai penutup, Paul mengatakan, sebagai pembelajaran, responden Indonesia mengubah strategi perusahaan mereka dan sales channel berada di tiga prioritas utama dari perencanaan yang akan dibuat. Para pemimpin bisnis menyadari bahwa fondasi ketahanan dapat membuat perbedaan antara menurun atau berkembang.

“Ketika periode pasca-pandemi mulai terbentuk dalam beberapa bulan mendatang, organisasi memiliki kesempatan untuk menata kembali peluang masa depannya. Krisis dapat menjadi katalisator yang kuat untuk perubahan positif,” tutup Paul.


Kirimkan Press Release berbagai kegiatan aktifitas Brand Anda ke: infobrandindonesia@gmail.com



Article Related


Masyarakat Semakin Melek Digital, Begini Cara Tetap Aman dalam Tatanan Digital Baru

Masyarakat Semakin Melek Digital, Begini Cara Tetap Aman dalam Tatanan Digital Baru
JAKARTA, INFOBRAND.ID - Menurut laporan 2021 Consumer Security Mindset: Travel Edition dari McAfee, Walaupun pembatasan kegiatan masyarakat...


95% Masyarakat akan Menghabiskan Waktu Libur Lebaran di Rumah

95% Masyarakat akan Menghabiskan Waktu Libur Lebaran di Rumah
JAKARTA, INFOBRAND.ID - Mengingat banyaknya masyarakat yang tidak melakukan mudik, kebutuhan akan produk dan layanan hiburan diprediksi meningkat jela...


Belanja Iklan TV Capai Rp4,4 triliun di Minggu Pertama Ramadhan

Belanja Iklan TV Capai Rp4,4 triliun di Minggu Pertama Ramadhan
JAKARTA, INFOBRAND.ID - Aktivitas tetap di rumah selama bulan Ramadhan di masa Pandemi Covid-19 mendorong meningkatnya penonton TV. Kondisi itu membaw...


Mengintip Resta Pendopo KM 456 Rest Area dengan Konsep Wisata

Mengintip Resta Pendopo KM 456 Rest Area dengan Konsep Wisata
JAKARTA, INFOBRAND.ID - Mulai beroperasi pada awal tahun 2020, Resta Pendopo memberikan pengalaman baru para pengguna jalan tol Trans Jawa ruas Semara...


Sign In
VIP Members

MOST POPULAR











Index

OPINIONS








Index
Elnusa