Rabu, 15 Juli 2020

Follow us:

infobrand

infobrand

Memprediksi Perubahan Perilaku Konsumen di New Normal

Posted by: 23-04-2020 15:53 WIB 6713 viewer

Memprediksi Perubahan Perilaku Konsumen di New Normal
Pakar marketing Inventure Consulting Yuswohady

JAKARTA, INFOBRAND.ID – Dampak dari wabah covid-19 secara mendalam akan membentuk stay @ home lifestyle yang bakal menjadi kenormalan baru atau new normal pada konsumen setelah krisis berlalu. Artinya, gaya hidup baru inilah yang akan menjadi landasan terbentuknya stay @ home economy.

Hal ini disampaikan oleh pakar marketing Inventure Consulting Yuswohady melalui video conference dengan tema “30 Consumer Behavior Shiftings Amid the Covid-19: Welcome New Normal” pada Senin (20/4) lalu.

Lantas, apa saja perilaku konsumen di new normal seperti yang diprediksi oleh Yuswohady? Berikut ulasannya.

IKLAN INFOBRAND.ID

#1. The Fall of Mobility, The Rise of Stay @ Home

Wabah praktis menghentikan mobilitas dan memaksa orang untuk berdiam diri di rumah. “the death of mobility“. Krisis COVID-19 membawa manusia seperti kembali ke zaman purba dimana hidupnya hanya di gua, yaitu rumah. “Welcome stay @ home economy.”

#2. Online-Shopping Widening+Deepening: From Wants to Needs

Pembelian online (online shopping) mulai bergeser dari produk yang sifatnya keinginan (wants) ke produk yang sifatnya adalah kebutuhan (needs). Belanja online konsumen melebar (widening) dari  barang-barang non-esensial ke esensial (daily needs). Dan mendalam (deepening) dimana volume pembeliannya makin besar. 

#3. Food Delivery: From “Indulgence” to “Utility”

Konsumen menghindari eating out dan beralih ke layanan delivery. Selama ini konsumen memanfaatkan layanan delivery untuk jenis makanan “indulgence” yaitu untuk pleasure dan enjoyment (seperti: boba tea, pizza, burger, atau ayam geprek) akan bergeser ke “utility” untuk kebutuhan rutin sehari-hari. Dari pemesanan sesekali (occasional) ke pemesanan berulang (habitual/routine).

#4. The Comeback of Home Cooking

Memiliki waktu cukup luang di rumah selama pandemi memberikan kesempatan bagi milenial mengasah keahlian baru yaitu masak. Dalam Millennials Kill Everything (2019) saya mengatakan milenial “membunuh” home cooking karena emak-emak milenial semakin kehilangan kemampuan memasak. Namun rupanya COVID-19 “menghidupkannya” kembali. 

#5. Frozen Food: Convenience Solution

Emak-emak milenial sudah terlanjur tidak piawai memasak. Walaupun stay @ home menjadi momentum comeback-nya kebiasaan memasak, namun gaya memasak milenial berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka lebih suka memasak yang simple dan convenient. Maka frozen food dan kemasan ready to cook akan menjadi pilihan. 

6. Going Omni

Dengan matangnya online shopping akibat COVID-19, maka brand-brand besar-menengah-kecil mulai hadir dengan platform omni channel-nya sendiri baik via website atau e-commerce dan tentu physical channels. Mereka tak bisa lagi cuma mengandalkan marketplace besar yang sudah ada. Ingat, customer data is the new gold.

#7. Subscription Model Matters

COVID-19 memaksa konsumen membeli dan mengonsumsi secara serba online: Belanja grocery, menikmati film/musik, membeli makanan, bekerja dan belajar, bermain games, bahkan berolahraga dan yoga pun melalui live class secara online. Tak hanya, belanja online itu dilakukan secara rutin tiap hari atau berkala tiap minggunya. Karena kebutuhannya rutin dan terus menerus, model pembelian berlangganan akan lebih cocok dan efisien. Subscription model will matter.

#8. TV Strikes Back

Dalam buku Milenial Kills Everything (2019) kami mengatakan bahwa milenial telah membunuh televisi. Tapi, COVID-19 telah menghidupkannya kembali, khusunya smart TV. TV memiliki keunggulan dasar yang tak mungkin dimiliki smartphone yaitu layar besar yang lebih ramah dilihat. Karena itu memasuki era “the death of mobility” akibat social distancing, TV menemukan momentumnya kembali. 

#9. DIY & Self-Care @ Home

Ketika konsumen sudah terbiasa dengan stay @ home maka mereka mulai mencoba berbagai hal baru yang menyenangkan. Salah satunya melakukan self-care atau peremajaan diri seperti facial, meni-pedi, spa. Maka tren do it yourself (DIY) ini dapat menjadi kenormalan baru dan pembelian produk-produk self-care secara otomatis mengalami kenaikan. 

#10. Zoomable Workplace @ Home

Work from Home memunculkan tren baru “zoomable workplace“ di rumah. Kalau sebelumnya populer istilah “instagramable” maka kini ada istilah tempat kerja di rumah yang “zoomable“. Tren ini dipicu oleh popularitas aplikasi Zoom untuk meeting virtual. Mendekorasi ruang kerja yang eye-catching sebagai background meeting. IKEA atau Informa bakal makin ramai pembeli. Tanpa disadari hal ini telah menjadi kebutuhan self-esteem. 


Kirimkan Press Release berbagai kegiatan aktifitas Brand Anda ke: infobrandindonesia@gmail.com



Article Related


Rebranding, Seberapa Penting?

Rebranding, Seberapa Penting?
JAKARTA, INFOBRAND.ID – Bagi para marketers, tentunya istilah Rebranding sudah tak asing lagi di telinga mereka. Meski begitu, tak sedikit juga...


Catat, Ini 5 Langkah Membangun Brand yang Kuat

Catat, Ini 5 Langkah Membangun Brand yang Kuat
JAKARTA, INFOBRAND.ID – Membangun sebuah brand yang kuat tentu bukanlah hal yang mudah bagi para pelaku bisnis di tanah air. Apalagi, saat ini p...


Trik Membangun Brand di Era Digital Untuk Bisnis Startup, Apa Saja?

Trik Membangun Brand di Era Digital Untuk Bisnis Startup, Apa Saja?
JAKARTA, INFOBRAND.ID – Dalam dunia bisnis, melakukan aktivitas branding telah menjadi suatu keharusan yang tak boleh dilupakan. Apalagi bagi bi...


Subiakto Priosoedarsono: UKM Harus Punya Purpose dan Passion

Subiakto Priosoedarsono: UKM Harus Punya Purpose dan Passion
JAKARTA, INFOBRAND.ID - Sektor UKM termasuk dalam sektor yang sangat terdampak selama masa pandemi COVID-19. Kondisi ini sangat berbeda dibandingkan p...


Sign In
VIP Members

OPINIONS




Index

INFOBRAND LETTER




Index

BRAND PRACTITIONERS




Index
NABATI