Selasa, 24 Mei 2022

Follow us:

infobrand

infobrand

Momentum Kebangkitan Brand

Posted by: 05-05-2022 12:39 WIB 210 viewer

Tahun 2021 sebagai tahun kedua Pandemi Covid-19, meskipun masih penuh dengan tantangan, namun menjadi titik balik pemulihan ekonomi dan kebangkitan brand di Indonesia. Pengalaman panjang dua tahun pandemi pun menjadi pelajaran berharga sebagai modal besar bagi pertumbuhan ekonomi di era baru, pasca Pandemi Covid-19.

Momentum Kebangkitan Brand
Kebangkitan brand.

JAKARTA, INFOBRAND.ID - Pandemi Covid-19 gelombang pertama masuk ke Indonesia awal Maret 2020, menjadi pemantik melambatnya ekonomi di tahan air, akibat pembatasan kegiatan masyarakat. Kabijakan “Gas” dan “Rem” yang diberlakukan oleh pemerintah agar ekonomi tetap dapat berjalan dan pandemi tetap terkendali justru berimbas pada ketidak pastian jalannya bisnis, yang membuat ekonomi seolah “jalan di tempat”.

Namun di awal bulan Maret tahun ini, pemerintah telah benar-benar ingin menginjak “Gas” lebih dalam, dengan melakukan berbagai pelonggaran kegiatan, meskipun masih ada berbagai aturan yang harus ditaati oleh masyarakat. Pelonggaran itu seperti peniadaan tes PCR untuk perjalanan domestik, dan pencabutan aturan social distaching di sejumlah fasilitas umum. Pelonggaran kebijakan tersebut tentu saja diharapkan menjadi sinyal positif pemulihan ekonomi di tanah air.

Sinyal pemulihan ekonomi pun diyakini oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto yang mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di Triwulan IV-2021 telah meningkatkan keyakinan pasar terhadap pemulihan ekonomi tanah air. Kondisi tersebut menurutnya akan terus berlanjut di tahun 2022, yang menjadi sinyal positif terhadap prospek ekonomi Indonesia tahun ini, yang ditargetkan tumbuh sebesar 5,2% di akhir tahun.

Upaya pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi sejatinya telah dilakukan sejak tahun 2021. Salah satu kebijakan pemerintah yang patut diapresiasi adalah program Bangga Buatan Indonesia yang dicanangkan 5 Mei 2021. Program ini diharapkan dapat memacu konsumsi masyarakat, terutama barang-barang produksi dalam negeri. Serta pemberian subsidi ongkos kirim untuk pelaku usaha maupun e-commerce untuk terus mendorong meningkatnya aktivitas belanja online akibat perubahan kebiasaan masyarakat dalam berbelanja.

Pandemi juga terbukti telah mendorong adopsi teknologi digital semakin dalam dan masif. Kondisi ini tentu saja menjadi momentum untuk mendorong adopsi industri 4.0 yang juga diyakini dapat membuat sektor manufaktur lebih tangguh dalam menghadapi dampak pandemi. Percepatan implementasi industri 4.0 juga dapat menjadi solusi industri untuk siap menghadapi krisis yang mungkin akan terjadi lagi di masa mendatang.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita juga menegaskan bahwa pelaku industri dan sektor lainnya merespon cepat untuk dapat melakukan transformasi digital dalam menghadapi dampak pandemi. Karena itu kondisi pandemi Covid-19 mendorong industri untuk mempercepat penerapan industri 4.0 melalui transformasi digital dalam sistem produksi, peningkatan skill, inovasi dan kerja sama kemitraan dengan banyak pihak terkait.

Tentu saja untuk menyambut sinyal positif dan mewujudkan prospek ekonomi tersebut, banyak hal yang masih harus dilakukan, tidak hanya oleh pemerintah, tapi juga bersama dengan semua elemen masyarakat. Seperti disampaikan oleh Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, yang mengharapkan pemerintah mengantisipasi inflasi yang dikhawatirkan dapat mengakibatkan penurunan daya beli masyarakat.

Kebijakan pelonggaran yang dilakukan pemerintan juga mendapatkan sambutan positif dari banyak pihak, terutama pelaku usaha. Kebijakan tersebut dinilai sangat tepat dan menjadi angin segar bagi kebangkitan bisnis di Indonesia. Agar tetap on the track, diharapkan pemerintah lebih tegas mengawal kebijakan yang telah ditetapkan.

Hanya saja, menurut pengamat ekonomi, Rusli Abdullah, sebagai peneliti di Institute for Development of Economics and Finance (Indef), mengatakan untuk mendukung pemulihan bisnis dari pelaku usaha, pemerintah harus tegas dalam memberlakukan kebijakan. Hal itu untuk memberikan kepastian bagi pelaku usaha, khususnya pelaku bisnis yang saat ini bimbang dengan kebijakan pandemi yang sudah melanda selama dua tahun.

“Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), meski secara ekonomi menyakitkan, namun hal ini menjadi salah satu instrumen yang baik dalam mendukung Indonesia untuk cepat pulih dari covid-19. Namun demikian, kebijakan PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional), perlu dicek kembali efektifitasnya dan perlu adanya audit,” ungkap Rusli.

Pandemi Sebagai Kawah Candradimuka

Kondisi ekonomi dalam dua tahun terakhir bisa dibilang sebagai krisis ekonomi. Namun berbeda dengan krisis ekonomi yang pernah terjadi di era sebelumnya, seperti krisis di tahun 1998 yang disebut sebagai krisis moneter akibat penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Krisis kali ini disebabkan karena pandemi covid-19 yang membuat aktivitas masyarakat dibatasi.

Dampaknya pun ternyata sangat luas, kegiatan masyarakat berkurang, permintaan akan produk menurun, pendapatan perusahaan atau pelaku bisnis tidak dapat menutupi operasional, untuk menghindari kerugian bahkan harus mengurangi tenaga kerja, yang mengakibatkan banyaknya PHK. Untuk bangkit dari kondisi sulit pun bukan perkara mudah, karena selain dihadapkan pada kekurangan modal, kebiasaan masyarakat dan perilaku konsumen, yang mebuat brand terdisrupsi.

Namun di sisi lain, perubahan kebiasaan masyarakat dan perilaku konsumen memberikan peluang tersendiri bagi brand. Karena ternyata situasi pandemi telah mempercepat perkembangan teknologi digital dan adopsinya di masyarakat.

Salah satu adopsi teknologi digital di masyarakat yang paling mencolok adalah meningkatnya aktivitas belanja online, baik itu di marketplace maupun belanja makanan melalui layanan delivery order. Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) memproyeksikan pertumbuhan e-commerce di Indonesia meningkat lebih dari 40% di tahun 2021.

Pandemi juga meningkatkan pengguna internet di Indonesia, mengutip data We Are Social: Indonesia Digital Report 2022, pada Januari 2022 pengguna internet di Indonesia mencapai 204,7 juta, mencapai 73,7% dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 277,7 juta jiwa. Jumlah tersebut pun meningkat 2,1 juta atau 1%, antara tahun 2021 hingga 2022.

Selain aktivitas belanja online, yang meningkat adalah pengguaan media sosial di masyarakat, masih dari data yang sama, pengguna media sosial di Indonesia saat ini mencapai 191,4 juta, mencapai 68,9% dari total populasi. Dengan tiga media sosial teratas, Facebook terdapat 129,9 juta pengguna, YouTube 139 juta pengguna, dan Instagram dengan 99,15 juta pengguna.

Kondisi tersebut tentunya mengharuskan setiap brand untuk aktif di secara digital. Pengamat brand Yuswohady, dalam bukunya berjudul Cool + Agile, menyebut saat ini ada tiga faktor pemicu disrupsi, yakni digital, pandemi, dan milenial. Masing-masing faktor tersebut memberikan peran masing-masing, seperti digital yang memicu pergeseran cara konsumen mendapatkan produk, pandemi yang mendorong disrupsi digital menjadi lebih cepat dan semakin masif, dan milenial yang memberikan pergeseran permintaan. Akibat disrupsi tersebut, bahkan pengamat brand ini menyebut bakan terjadi pembilasan brand, dari brand-brand lama dengan brand-brand baru.

Menarik mengutip Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dalam Pidato Sidang MPR RI HUT RI ke-76 tahun 2021, yang mengatakan bahwa Pandemi itu seperti kawah candradimuka yang menguji, mengajarkan, sekaligus mengasah. Pandemi memberikan beban yang berat kepada kita, beban yang penuh dengan risiko, dan memaksa kita untuk menghadapi dan mengelolanya.

Untuk mengelolanya, adopsi teknologi digital dalam setiap proses bisnis tentu menjadi salah satu kunci kesuksesan. Di sisi lain, brand juga harus memahami kebutuhan dan perilaku konsumen yang terus berubah. Karena teknologi digital, pandemi, dan milenial telah memicu disrupsi karena perubahan value brand. Karena itu, sebuah brand harus memperbaiki value agar tetap relevan dengan kondisi dan kebutuhan konsumen.

Satu hal yang tidak boleh ditawar-tawar lagi adalah inovasi. Pandemi memang memberikan tantangan yang tidak mudah, namun di sisi lain banyak peluang yang dapat dimanfaatkan. Untuk mengelolanya dibutuhkan inovasi dari para pelaku brand.

Seperti dikatakan oleh Tri Raharjo, CEO TRAS N CO Indonesia, yang mengungkapkan sepanjang tahun 2020-2021, tidak sedikit brand yang melakukan berbagai upaya mengantisipasi dampak dari pandemi dengan inovasi. Beberapa contoh inovasi yang dilahirkan oleh brand seperti produk AC dengan inovasi anti bacterial, atau air purifier anti bacterial, selain itu di layananan transportasi ada yang memakai alat untuk mematikan bakteri.

Sementara, dari sisi proses bisnis, beberapa inovasi yang dilakukan seperti menggunakan platform berbasis aplikasi sebagai kemudahan masyarakat dalam mendapatkan informasi juga melakukan berbagai aktifitas transaksi. Sedangkan untuk dari segi campaign antara offline dan online juga brand/perusahaan juga  memadukan kedua kegiatan tersebut.

“Hal itu menunjukkan bahwa semua lini perusahaan melakukan adaptasi terhadap situasi pandemi dan mengubahkan menjadi peluang bisnis,” ujar Tri Raharjo.

Dengan adopsi teknologi digital dalam kegiatan bisnisnya, memahami value brand di mata konsumen di ranah digital, dan inovasi niscaya brand akan lebih siap dalam menyongsong era baru pasca Pandemi Covid-19. Akhirnya, dengan memanfaatkan momentum kebangkitan ekonomi, brand dapat menghadapi era baru pasca pandemi, bahkan siap menjadi champion di kategorinya masing-masing.(Agus Aryanto)


Kirimkan Press Release berbagai kegiatan aktifitas Brand Anda ke: infobrandindonesia@gmail.com



Article Related


5 Tips Membuat Konten Media Sosial yang Ciamik

5 Tips Membuat Konten Media Sosial yang Ciamik
JAKARTA, INFOBRAND.ID - Bisnis di era digital dapat dilakukan dengan lebih mudah dalam setiap prosesnya. Termasuk dalam kegiatan branding dan marketin...


Memperbaiki Value Brand agar Tetap Relevan dengan Pasar

Memperbaiki Value Brand agar Tetap Relevan dengan Pasar
JAKARTA, INFOBRAND.ID - Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat ternyata telah memicu adanya disrupsi atau gangguan yang membuat sejumlah bra...


Perilaku Konsumen di Era Digital

Perilaku Konsumen di Era Digital
JAKARTA, INFOBRAND.ID - Gelombang disrupsi akibat perkembangan teknologi digital juga dipengaruhi oleh perubahan perulaku konsumen dalam memilih sebua...


Peran PR di Era Digital

Peran PR di Era Digital
JAKARTA, INFOBRAND.ID - Perkembangan teknologi digital telah menyentuh berbagai aktivitas bisnis. Tak terkecuali dalam aktivitas bisnis. Kegiatan hubu...