Kolaborasi Riset Bahan Aktif Kosmetik Berbasis Hayati
Kolaborasi riset bahan aktif kosmetik berbasis hayati dorong pemanfaatan sumber daya alam lokal untuk memperkuat industri kosmetik nasional.
Kolaborasi riset industri dan akademisi untuk pengembangan bahan aktif kosmetik berbasis hayati Indonesia.
INFOBRAND.ID, Jakarta – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan sumber daya alam hayati terbesar di dunia. Keberagaman flora dan bahan alam tersebut menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi bahan aktif kosmetik yang bernilai tambah tinggi bagi industri. Namun, pemanfaatan sumber daya lokal ini masih relatif terbatas, sementara industri kosmetik nasional masih bergantung pada bahan baku impor untuk memenuhi kebutuhan produksinya.
Kondisi tersebut mendorong perlunya kolaborasi lintas sektor agar potensi hayati Indonesia dapat diolah secara optimal dan berkelanjutan. Salah satu langkah yang dilakukan datang dari Nosé, perusahaan maklon kosmetik lokal, yang secara aktif mendukung kegiatan riset dan penelitian bersama akademisi serta lembaga pemerintah. Dukungan ini diwujudkan melalui kerja sama dengan mahasiswa dan peneliti dari berbagai universitas serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Hingga saat ini, Nosé telah menjalin kolaborasi penelitian dengan enam perguruan tinggi di Indonesia, yakni Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Universitas Indonesia (UI), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Mulawarman (UNMUL), dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Kerja sama ini berfokus pada pengembangan dan eksplorasi bahan alam lokal yang berpotensi menjadi bahan aktif kosmetik, sekaligus memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan industri.
Dalam konteks penguatan ekosistem riset nasional, Nosé memandang Program ABG (Academy, Business, Government) yang diinisiasi oleh BPOM RI sebagai langkah strategis. Program ini dirancang untuk mempertemukan akademisi, pelaku industri, dan pemerintah dalam satu kerangka kolaboratif, sehingga riset, kebutuhan pasar, dan regulasi dapat berjalan selaras.
“Kami melihat ABG sebagai ekosistem yang sangat strategis. Saat riset dari akademisi, kebutuhan industri, dan regulasi dari pemerintah bisa berjalan searah, industri kosmetik nasional akan tumbuh lebih sehat dan berkelanjutan,” ujar Aling Pratama, Direktur PT Nosé Herbal Indo.
Melalui pendekatan tersebut, hasil penelitian dari perguruan tinggi diharapkan tidak berhenti pada tataran akademis, tetapi dapat dikembangkan menjadi inovasi yang aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan industri. Di sisi lain, keterlibatan pemerintah melalui regulator memastikan bahwa setiap pengembangan produk tetap memenuhi aspek keamanan, mutu, dan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap Program ABG, PT Nosé Herbal Indo turut berpartisipasi dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun BPOM RI ke-25. Perusahaan ini membuka booth pada acara yang diselenggarakan pada 28–31 Januari 2026 di Gedung Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI), Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Partisipasi tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan aktivitas riset, kolaborasi, serta komitmen perusahaan dalam mendukung pengembangan industri kosmetik berbasis bahan alam lokal.
Ke depan, Nosé berharap penguatan Program ABG dapat terus dilakukan secara berkelanjutan, terutama dalam mendorong kolaborasi riset jangka panjang antara industri dan perguruan tinggi. Melalui kerja sama tersebut, diharapkan lahir inovasi kosmetik berbasis kekayaan hayati Indonesia yang mampu meningkatkan kemandirian bahan baku dan memperkuat daya saing industri kosmetik nasional.
“Harapan kami, kolaborasi ABG ini tidak berhenti di satu momentum saja, tetapi terus berlanjut sebagai gerakan bersama. Dengan riset yang kuat dan kolaborasi yang terbuka, industri kosmetik Indonesia punya potensi besar untuk berkembang secara mandiri dan berkelanjutan,” tutup Aling.

