PT Pos Indonesia Dinilai Layak Jadi Induk Holding Logistik
PT Pos Indonesia dinilai layak menjadi induk holding logistik nasional berkat jaringan terluas, transformasi bisnis, dan kepercayaan publik.
Jaringan distribusi PT Pos Indonesia menjadi salah satu fondasi pembentukan holding logistik nasional.
INFOBRAND.ID, Jakarta – PT Pos Indonesia (Persero) dinilai memenuhi kriteria untuk menjadi induk holding logistik nasional. Penilaian tersebut didasarkan pada kepemilikan aset jaringan distribusi terluas di Indonesia, proses transformasi perusahaan yang sedang berjalan, serta kekuatan merek dan tingkat kepercayaan publik yang telah terbentuk selama puluhan tahun.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Pengamat Ekonomi Makro Piter Abdullah. Ia menilai keputusan Danantara menempatkan PT Pos Indonesia sebagai induk holding logistik nasional merupakan langkah strategis yang rasional dan tepat waktu dalam konteks penguatan ekosistem logistik nasional.
“Langkah Danantara membentuk Holding Logistik Nasional dengan PT Pos Indonesia sebagai induk adalah keputusan yang sangat strategis dan tepat waktu," kata Piter dalam keterangan persnya, Selasa (3/2).
Menurut Piter, selama ini Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor logistik beroperasi secara terpisah tanpa koordinasi yang optimal. Kondisi tersebut, dalam sejumlah kasus, menyebabkan tumpang tindih wilayah layanan hingga persaingan langsung di segmen pasar yang sama.
“BUMN logistik kita berjalan sendiri-sendiri, overlap dalam coverage, bahkan berkompetisi satu sama lain. Ini jelas tidak efisien. Konsolidasi adalah keniscayaan jika kita ingin punya national champion yang bisa bersaing dengan pemain global seperti DHL," jelasnya.
Piter memaparkan tiga alasan utama yang mendasari penilaian bahwa PT Pos Indonesia layak menjadi induk holding logistik nasional dari perspektif manajemen strategis.
Pertama, PT Pos Indonesia memiliki aset jaringan distribusi terluas dibandingkan BUMN logistik lainnya. Perusahaan ini mengoperasikan lebih dari 4.800 titik layanan yang tersebar hingga ke berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah terpencil.
"PT Pos punya aset jaringan terluas, 4.800 lebih titik layanan yang tidak dimiliki BUMN logistik lainnya. Ini infrastruktur yang tidak bisa dibangun dalam waktu singkat," katanya.
Kedua, transformasi bisnis yang dijalankan PT Pos Indonesia dalam beberapa tahun terakhir dinilai menunjukkan kesiapan perusahaan untuk memimpin proses konsolidasi. Transformasi tersebut mencakup penguatan layanan, efisiensi operasional, serta pengembangan kapabilitas baru di sektor logistik.
“Transformasi yang dilakukan PT Pos dalam tiga tahun terakhir menunjukkan readiness mereka. Lihat saja launching kargo internasional mereka bulan ini. Itu bukan langkah inkremental, tapi leap yang signifikan,” jelas Piter.
Ketiga, PT Pos Indonesia memiliki brand equity dan tingkat kepercayaan publik yang telah terbentuk dalam jangka panjang. Menurut Piter, aset tidak berwujud tersebut memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan pemangku kepentingan terhadap holding logistik nasional yang baru dibentuk.
Dari sudut pandang ekonomi makro, Piter juga menyoroti potensi dampak konsolidasi logistik terhadap penguatan ekonomi digital dan perluasan inklusivitas ekonomi di tingkat nasional.
“Dari perspektif ekonomi makro, konsolidasi ini punya multiplier effect yang besar. Logistik adalah backbone ekonomi digital," tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa akses logistik yang lebih efisien dan terintegrasi dapat membuka peluang yang lebih luas bagi pelaku usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah luar pusat ekonomi. Kemampuan untuk mengirim produk ke pasar domestik maupun internasional dengan biaya dan waktu yang lebih terjangkau dinilai berpotensi memperluas partisipasi ekonomi.
“Ketika UMKM di Papua atau Maluku bisa mengirim produknya ke Jakarta atau bahkan ekspor dengan mudah dan terjangkau, itu game changer untuk inklusivitas ekonomi. PT Pos dengan jaringannya yang masuk hingga ke kecamatan-kecamatan terpencil, plus kapabilitas kargo internasional yang baru diluncurkan, bisa jadi enabler bagi jutaan UMKM yang selama ini kesulitan akses logistik," ucap Piter.

