Brand Leadership di Era AI: Sentuhan Manusiawi Jauh Lebih Penting daripada Kecanggihan Teknologi
Pelajari strategi Brand Leadership di era AI untuk membangun kepercayaan dan relevansi merek melalui integrasi teknologi cerdas dan nilai kemanusiaan.
Heru Sutadi, Executive Director Indonesia ICT Institute saat mengisi seminar The 35th INFOBRAND Forum 2026 di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (28/1).
INFOBRAND.ID, Jakarta – Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) saat ini bukan lagi sekadar visi masa depan, melainkan realitas yang telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk cara perusahaan mengelola merek mereka. Di tengah perubahan ini, konsep Brand Leadership mengalami pergeseran mendasar di mana merek tidak lagi hanya sekadar logo atau pesan pemasaran, tetapi tentang bagaimana sebuah brand bertindak secara cerdas, etis, dan relevan dalam kehidupan konsumen. Konsumen yang semakin berbasis data kini memiliki ekspektasi yang lebih tinggi terhadap pengalaman digital yang mereka terima.
Data menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sangat terbuka terhadap perkembangan teknologi ini, dengan tingkat penggunaan AI mencapai 79 persen yang menempatkan Indonesia dalam 10 besar negara pengguna AI di dunia. Kondisi ini menjadikan AI sebagai instrumen penting bagi konsumen untuk mencari informasi, membandingkan keunggulan produk, hingga akhirnya mengambil keputusan pembelian secara cepat melalui mesin pencari maupun media sosial. Oleh karena itu, persaingan merek saat ini tidak hanya bertumpu pada kualitas produk semata, tetapi juga pada kemampuan merek dalam memberikan kepercayaan dan informasi yang akurat kepada masyarakat.
Peran AI dalam Transformasi dan Keunggulan Kompetitif Brand
AI memainkan peran krusial dalam transformasi merek melalui kemampuannya memahami pelanggan melalui big data dan analisis prediktif. Teknologi ini memungkinkan merek untuk berinteraksi lebih personal melalui chatbot atau asisten virtual, serta membantu pengambilan keputusan yang lebih presisi seperti pada sistem dynamic pricing dan otomatisasi pemasaran. Dengan implementasi AI, operasional merek dapat berjalan lebih cepat dan akurat, namun di sisi lain juga menjadi lebih rentan terhadap kesalahan etis dan risiko reputasi jika tidak dikelola dengan hati-hati.
Heru Sutadi menyampaikan pandangannya di The 35th INFOBRAND Forum 2026 mengenai esensi kepemimpinan merek di tengah gempuran teknologi saat ini melalui sebuah pernyataan penting. “Brand Leadership di Era AI bukan soal siapa paling canggih tetapi siapa paling mampu menggunakan AI secara cerdas, etis, dan manusiawi,” tegasnya, Rabu (28/1).
Implementasi AI yang sukses dapat dilihat pada studi kasus perusahaan global seperti Netflix yang menggunakan AI untuk personalisasi konten secara tinggi sehingga menciptakan loyalitas pelanggan yang kuat. Begitu pula dengan Amazon yang memanfaatkan AI untuk efisiensi rantai pasok dan layanan pelanggan demi menjaga keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. AI terbukti mampu mempermudah pekerjaan yang bersifat repetitif dan administratif, sehingga memungkinkan perusahaan untuk lebih fokus pada strategi pengembangan yang lebih besar.
Pilar Utama Membangun Brand Leadership yang Etis dan Relevan
Dalam membangun kepemimpinan merek di era ini, terdapat beberapa pilar utama yang harus diperhatikan, di antaranya adalah pembangunan AI yang beretika, penguatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), dan fokus pada pengalaman pelanggan. Perusahaan perlu memiliki pedoman etika penggunaan AI serta melakukan audit algoritma secara berkala guna menghindari pelanggaran data pribadi atau otomatisasi berlebihan yang dapat merusak citra merek. Penggunaan chatbot, misalnya, memang memberikan efisiensi, namun sentuhan manusia tetap dibutuhkan untuk menangani masalah kompleks yang tidak dapat diselesaikan oleh program AI.
Selain teknologi, kesiapan SDM atau talenta digital yang memahami implikasi bisnis dan sosial dari AI sangatlah krusial. Brand leader diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara kecanggihan teknologi dengan empati serta nilai-nilai kemanusiaan agar tetap relevan di mata konsumen. Heru Sutadi kembali mengingatkan pentingnya menjaga nilai kemanusiaan agar brand tetap memiliki karakter yang khas dan sulit ditiru oleh kompetitor. “AI itu adalah alat, sekali lagi alat, tools. Kemudian juga bagaimana kita memanfaatkan alat ini untuk menjadi bagian dari perkembangan brand kita. Tapi tentu yang utama itu adalah nilai manusia,” tambahnya.
Pada akhirnya, merek yang unggul di era AI adalah merek yang mampu membangun kepercayaan, tetap relevan dengan kebutuhan konsumen yang terus berubah, dan memiliki nilai unik yang sulit diduplikasi. Melalui integrasi yang tepat antara kecerdasan teknologi dan kreativitas manusia, Brand Leadership dapat dicapai untuk menciptakan dampak yang lebih bermakna bagi masyarakat luas.

