Rabu, 24 April 2024

Follow us:

infobrand
10th INFOBRAND

Cara Warner Music Menghadapi Tantangan Era Digital

Posted by: 1079 viewer

Cara Warner Music Menghadapi Tantangan Era Digital
Andri Parulian, International Marketing Director Warner Music Indonesia.

INFOBRAND.ID- Sebagai perusahaan rekaman, Warner Music terus berupaya beradaptasi dengan teknologi dan pasar. Zaman sudah berubah. Kebiasaan dan perilaku orang dalam mendengarkan musik sekarang sudah sangat berbeda. Adanya akselerasi teknologi digital akibat pandemi semakin membuat cara orang menikmati musik jadi berbeda sama sekali.

Seperti diketahui, saat ini masyarakat papan atas hingga bawah bisa mengakses musik dengan mudah. Itu sebabnya, manajemen Warner Music pun ingin membuat formula yang tepat, agar audiens mau mendengarkan karya musik di era digital ini.

Tidak bisa dimungkiri, platform media sosial telah menjadi media yang ampuh. Pasalnya, saat ini dengan hanya berbekal ponsel plus paket data, lalu merekam lagu selama 30 detik atau 1 menitan saja, kemudian posting ke YouTube atau TikTok, seseorang sudah bisa tenar atau booming.

IKLAN INFOBRAND.ID

Memang, terjadinya pandemi ini membuat tidak ada batasan untuk memamerkan karya musik. Berbeda dengan kondisi dahulu, untuk bisa terkenal, seorang pemusik harus melewati banyak festival. Sekarang tidak ada batas lagi untuk memamerkan karya musik. Ini jadi peluang luas bagi calon bintang.

Perkembangan media sosial dan dukungan teknologi digital memudahkan measurement-nya, karena angka penontonnya terpampang nyata. Misalnya, dalam sebuah media sosial bisa diketahui sudah ditonton berapa juta kali dan berapa subscriber-nya.

“Maka dari itu, sebagai major label, kami harus terbuka terhadap perkembangan ini. Empat tahun lalu, kami tidak mengira TikTok akan sebesar ini. Bahkan, raksasa YouTube ataupun Instagram terkejar. Kami harus siap terhadap segala perubahan,” kata Andri Parulian, International Marketing Director Warner Music Indonesia.

Lalu, bagaimana Warner Music merespons perubahan peta permainan ini? Menurut Paru, panggilan keseharian Andri Parulian, ketika bicara musik, antara musik Indonesia dan internasional tidak bisa dikotak-kotakan. Di bawah Warner Music, antara lain bernaung grup musik Coldplay, Ed Sheeran, Charlie Puth, dan Dua Lipa.

Bicara berapa persen konsumsi musik internasional di Indonesia, Paru belum bisa mengeluarkan datanya. Namun, jika dibandingkan dengan musik pop dan dangdut, persentase musik internasional masih di bawah 40%. “Maka, kami harus melokalisasi profil artis-artis di bawah Warner Music agar lebih dikenal di Indonesia,” ujarnya.

IKLAN INFOBRAND.ID

Bagaimana cara melokalisasinya? Dengan adanya TikTok, yang memiliki fitur short music dan short video, misalnya, pihaknya memperkenalkan lagu-lagu mereka dengan menampilkan bagian chorus saja atau bagian yang mudah diterima telinga masyarakat Indonesia.

Selain itu, pihaknya pun memperkenalkan profil artis tersebut, dengan menggunakan platform media sosial atau pendekatan media, serta berkolaborasi dengan artis musik Indonesia atau key opinion leaders. “Ketika bicara Warner Music, bukan saja bicara artis internasional, tapi juga ada artis lokal. Para artis lokal di bawah label Warner Music pun diberi kesempatan luas untuk go global sebagai benefit,” kata Manajer Digital Marketing Lazada itu.

Beberapa artis lokal sudah diajak kolaborasi dan berkesempatan untuk go global dengan akses artis-artis internasional, di antaranya Hanin Dhiya dan Rahmania Astrini. Hanin Dhiya, misalnya, sudah berkolaborasi dengan Lukas Graham dan NIVE. Sementara Rahmania Astrini pernah berkolaborasi dengan Wafia dan Connor Matthews.

Adapun artis lokal yang sudah bisa sejajar dengan artis internasional di bawah Warner Music antara lain Ramengvrl. Dengan musik yang lebih hip hop R&B, Ramengvrl beberapa kali memenangi AMI Award, serta sudah show di Singapura, Malaysia, dan Vietnam.

Ada pula Kara Chenoa yang melejit baru-baru ini. Juga Jinan Laetitia, penyanyi berhijab dengan gaya soul R&B, yang semua lagunya dalam bahasa Inggris

IKLAN INFOBRAND.ID

​Kemudian, seperti apa transformasi yang dilakukan Warner Music Indonesia dengan adanya perkembangan sekarang? Apa saja yang ​​dibenahi?

Menurut Paru, pembenahan di Warner antara lain: sebelumnya masih ada produk fisik, kini semua produk sudah digital; kalaupun ada produk fisik, dijadikan collectable item. “Kami sekarang melihat perubahan ini, harus terus kami ikuti agar tidak tertinggal. Artis-artis harus dibangun intellectual property-nya,” katanya.

Ke depan, Warner Music akan terus mengejar teknologi dengan kolaborasi, membangun intellectual property, membuat NFT-nya, berkolaborasi dengan komunitas lain, seperti eSport dengan community based sangat besar. NFT dan eSport sudah sejak tahun lalu dibangun. Juga berkolaborasi dengan berbagai pihak. Contohnya, artis Why Don’t We yang bekerjasama dengan Rabbloc.

Jadi, untuk artis internasional sudah ada beberapa yang mengembangkan NFT, sementara untuk artis Indonesia masih dikembangkan. “Kalau mau membangun ini, artis Indonesia harus dibangun dari hulu-hilirnya dengan jelas dan ada story telling-nya. Kami berharap tahun ini sudah ada yang meluncurkannya,” kata Paru.

Sejatinya, di Indonesia, musik domestik dan lokal sangat kuat. Dengan demikian, pihaknya bisa menggandeng talenta lokal ini untuk siap bersaing di kancah global. Posisi Warner Music saat ini adalah top big 3 label di dunia. Adapun di Indonesia, Warner Music menjadi part of board of director label-label di negeri ini.

IKLAN INFOBRAND.ID

Model bisnis yang sudah dikembangkan oleh Warner Music Indonesia sekarang, tentunya, sudah banyak. ”Sekarang, kuncinya bagaimana kami berkolaborasi membangun intellectual property, musik tergabung dengan perfilman, dan video OTT. Banyak peluang di luar sana yang bisa kami garap karena perkembangan teknologi,” ungkapnya.

Dengan adanya teknologi saat ini, pihaknya bisa membangun kolaborasi dan inovasi sehingga muncul ide-ide baru yang berbeda. “Kami harus siap keluar dari zona nyaman. Di era digital, big data sangat berperan, dan numbers lebih riil. Kuncinya, kolaborasi dan inovasi. Dulu kan berpatokan pada penjualan keping cakram atau kaset saja,” Paru menegaskan.

Menariknya lagi, dengan digital, kita juga bisa tahu demografinya. Misalnya, siapa saja dan daerah mana saja yang suka artis A.

Baca berita lainnya di Google News


Share This Article!

Video Pilihan dari INFOBRAND TV

Article Related


Bergabungnya Tiktok-Tokopedia akan Membuka Pasar UMKM Lebih Luas

Bergabungnya Tiktok-Tokopedia akan Membuka Pasar UMKM Lebih Luas
INFOBRAND.ID, JAKARTA - Sekretaris Jenderal Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Edy Misero menyatakan, bergabungnya dua perusahaan raksasa, Tiktok dan...


Hari Bumi 2024, Blibli Gandeng EcoTouch kelola Limbah Fesyen

Hari Bumi 2024, Blibli Gandeng EcoTouch kelola Limbah Fesyen
INFOBRAND.ID, JAKARTA - Blibli menggandeng EcoTouch untuk mengelola limbah fashion melalui Fashion Take Back Program pada 22 April - 3 Mei 2024 untuk...


Kenalan dengan C3 Aircross Yuk, SUV 7-Seater Terbaru dari Citroën

Kenalan dengan C3 Aircross Yuk, SUV 7-Seater Terbaru dari Citroën
INFOBRAND.ID, JAKARTA - Citroën Indonesia hari telah meluncurkan mobil SUV 7-seater terbaru yakni Citroën C3 Aircross SUV, menyusul penampil...


November Mendatang, Perhumas akan Luncurkan Kode Etik Kehumasan Terkait AI

November Mendatang, Perhumas akan Luncurkan Kode Etik Kehumasan Terkait AI
INFOBRAND.ID, JAKARTA - Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) akan meluncurkan kode etik kehumasan berkenaan dengan teknologi kecerdasa...